“Indonesia future: wait for death in uncertainty “
Saya menulis judul dalam bahasa Inggris bukan karena jago bahasa Inggris, tetapi lebih menekankan bahwa istilah inggris sering kita gunakan, yang menandakan adanya dunia, yang yang mulai tak berbatas, berita tentang apapun bisa diketahui, bisa didengar, atau dilihat, apapun yang kita inginkan berkaitan dengan apapun juga bisa kita dapat, tentu itu karena teknologi, banyak orang menganggap bahwa teknologi beranalogi dengan kemajuan, oleh karena itu saya juga akan mengunakan istilah ini untuk sementara waktu, seuatu yang membuat hidup lebih mudah, dan tentu lebih safety dan reliable, suatu jaminan untuk menjalani kehidupan.
Tetapi kenyataaan berkata lain, kenyataaan saya sebut sebagai fakta yang terjadi, yang tentu saya akan susah menemukan korelasi yang sebenarnya dengan adanya kemajuan dengan kenyataan. Karena sepertinya tidak berkorelasi langsung apakah yang kita sebut sebagai kemajuan akan menjamin sebuah kepastian untuk hidup lebih reliable, bahkan korelasinya sangatlah rumit.
Saya mengambil contoh, sesuatu yang extrim, tentang nyawa, Sesutu yang tentu pastilah hilang, tetapi dengan frame waktu yang berbeda. Diluar pembahasan tentang kehendak Allah untuk mencabut nyawa seseorang, saya ingin membahas tentang semakin mudahnya nyawa hilang, peperangan, bom, penyakit, bencana alam, dan tentu kejahatan. Tentu tidaklah mudah menentukan korelasi antara rate kematian dengan kemajuan teknologi tetapi lebih pada sebuah pertanyaan, kenapa teknologi sepertinya tidak berdaya untuk menjamin reliabilitas hidup kita.
Bencana tsunami desember tahun 2004, adalah salah satu contoh bencana yang yang belum mampu ditangani oleh teknologi, walaupun sebenarnya teknologi early warning sustem yuntuk tsunami bukanlah hal yang terlalu sulit, cuman yang paling sulit mungkin adalah memutuskan apakah teknologi tersebut diaplikasikan atau tidak. Bencana berikutnya adalah banjir dan tanah longsor, bencana ini tentu berkaitan dengan curah hujan dan topology suatu wilayah. Tapi kenapa juga bencana seperti ini merupakan suatu rutinitas di negara tropis semacam Indonesia.
Kasus penyakit, mewabahnya penyakit semacam HIV aids, SARS atau Flu burung, adalah penyakit yang tidak mampu diselesaikan secara tuntas oleh kemajuan teknologi. Teknologi sepertinya mengalami kekalahan dengan efek samping kemajuan itu sendiri. Sesuatu yang paradox bukan, kita ingin hidup yang reliable tapi ternyata efek samping usaha manusia tetap saja membawa dampak terhadap penurunan nilai reliabilitas itu sendiri. Jadi kemajuan teknologi tidak bisa menjamin bahwa nyawa manusia tidak mengalami ancaman, apalagi di negara ring of fire seperti Indonesia, jadi saya menyebutnya "Indonesiafuture: wait for death in uncertainty"
Comments(1)