Archive for December, 2006

“Indonesia future: wait for death in uncertainty “

Saya menulis judul dalam bahasa Inggris bukan karena jago bahasa Inggris, tetapi lebih menekankan bahwa istilah inggris sering kita gunakan, yang menandakan adanya dunia, yang yang mulai tak berbatas, berita tentang apapun bisa diketahui, bisa didengar, atau dilihat, apapun yang kita inginkan berkaitan dengan apapun juga bisa kita dapat, tentu itu karena teknologi, banyak orang menganggap bahwa teknologi beranalogi dengan kemajuan, oleh karena itu saya juga akan mengunakan istilah ini untuk sementara waktu, seuatu yang membuat hidup lebih mudah, dan tentu lebih safety dan reliable, suatu jaminan untuk menjalani kehidupan.

            

Tetapi kenyataaan berkata lain, kenyataaan saya sebut sebagai fakta yang terjadi, yang tentu saya akan susah menemukan korelasi yang sebenarnya dengan adanya kemajuan dengan kenyataan. Karena sepertinya tidak berkorelasi langsung apakah yang kita sebut sebagai kemajuan akan menjamin sebuah kepastian untuk   hidup lebih reliable, bahkan korelasinya sangatlah rumit.

Saya mengambil contoh, sesuatu yang extrim, tentang nyawa,  Sesutu yang tentu pastilah hilang, tetapi dengan frame waktu yang berbeda. Diluar pembahasan tentang kehendak Allah untuk mencabut nyawa seseorang, saya ingin membahas tentang semakin mudahnya nyawa hilang, peperangan, bom, penyakit, bencana alam, dan tentu kejahatan. Tentu tidaklah mudah menentukan korelasi antara rate kematian dengan kemajuan teknologi tetapi lebih pada sebuah pertanyaan, kenapa teknologi sepertinya tidak berdaya untuk menjamin reliabilitas hidup kita.

Bencana tsunami desember tahun 2004, adalah salah satu contoh bencana yang yang belum mampu ditangani oleh teknologi, walaupun sebenarnya teknologi early warning sustem yuntuk tsunami bukanlah hal yang terlalu sulit, cuman yang paling sulit mungkin adalah memutuskan apakah teknologi tersebut diaplikasikan atau tidak. Bencana  berikutnya adalah banjir dan tanah longsor, bencana ini tentu berkaitan dengan curah hujan dan topology suatu wilayah.  Tapi kenapa juga bencana seperti ini merupakan suatu rutinitas di negara tropis semacam Indonesia.

Kasus penyakit, mewabahnya penyakit semacam HIV aids, SARS atau Flu burung, adalah penyakit yang tidak mampu diselesaikan secara tuntas oleh kemajuan teknologi. Teknologi sepertinya mengalami  kekalahan dengan efek samping kemajuan itu sendiri. Sesuatu yang paradox bukan, kita ingin hidup yang reliable tapi ternyata efek samping usaha manusia tetap saja membawa dampak terhadap penurunan nilai reliabilitas itu sendiri. Jadi kemajuan teknologi tidak bisa menjamin bahwa nyawa manusia tidak mengalami ancaman, apalagi di negara ring of fire seperti Indonesia, jadi saya menyebutnya "Indonesiafuture: wait for death in uncertainty"

Life is like a teror’

Kisahnya dimulai saat tubuh kurus itu, terbaring di  sebuah rumah sakit pemerintah disuatu kota, dimana orang bisa berbuat apa saja. Seorang perempuan  yang sulit ditebak umurnya, menjerit, menangis, meratap, pandangan mata yang tak jelas kemana, hanya air  bening saja yang mengalir terus dari kedua matanya yang telah memerah. Ia meratapi tubuh kurus yang terbaring itu, yang masih lima belas bulan, ia nggak pernah tahu, mengapa, kenapa, atau mencari siapa yang salah atau patut disalahkan, yang pasti..putrinya yang masih limabelas bulan itu tak akan bersamanya lagi, ia pergi dan tak pernah ada jawaban kenapa ia pergi  begitu cepat, tetapi  ia masih sangat menyayanginya.ia masih teringat kala pertama kali,lima belas bulan yang lalu tangis putri kecilnya itu, bagai sebuah melodi yang indah, ia masih ingat kala senyum itu adalah bagian dari kehidupannya selama ini,  impian terlanjur ia bangun antara dirinya dan putrinya, kini mendadak bagai sebuah kenyataan yang menyakitkan. 

Seorang lelaki, berjalan tegang membobong tubuh kurus lima belas bulan itu  tanpa harus menoleh kemanapun, tidaklah mudah membayangkan apa yang ia pikirkan sekarang , ia bahkan tidak pernah memperlihatkan sorot matanya, ia takut atau malas untuk menatap selain dirinya, seringkali tertunduk, hanya melihat jalan yang ia lalui, dengan membopong  tubuh yang ringan itu, sebuah tubuh yang berupa tulang, yang terbungkus kulit yang begitu keriput, dengan kepala yang lebih besar dari teman sebayanya, yang tidak pernah ia temui, karena ia belum pernah bermain, mungkin ia hanya bermimpi.

Lelaki itu terus berjalan saja, sampai disuatu parkir,dengan tetap menegakkan kedua tangannya, sebagai tempat awal tidur abadi putrinya, berselimut  kain sarung, sebuah kain yang tidaklah lebih mahal dari harga satu kilogram daging sapi, dan bagi sebagian penduduk kota, kain itu adalah kain yang telah menjadi sampah, atau bahkan tidak pernah tersentuh. Tetapi ia tidak meneteskan air mata kepadanya, yang  telah menyampaikan perpisahan beberapa jam yang lalu, masih ada dipangkuannya, barangkali ia tahu ini terlalu manakutkan untuk ditangisi, atau  sudah bukan hal yang luar biasa bagi dirinya, berhadapan dengan dunia, yang begitu berat baginya, dunianya beberapa orang yang hanya mampu mengurusi dirinya sendiri, sebuah dunia yang  berisi manusia yang sangat percaya egoisme, dan menggariskan hidupnya atas kemauannya, sebuah  dunia yang berisi perlombaan  mimpi buatan yang tidak akan tercapai. Walaupun bernasib sama seperti putrinya sekarang. Ia kini menyerah, meratap tapi tidaklah menangis.

Dan  kendaraan roda dua itu menuju pulang meninggalkan keramaian yang menyorot tubuhnya dalam detik-detik terakhir ini. Tapi ia tidak peduli nanti, karena tatapan itu adalah hanya  tatapan bukanlah berarti apa-apa. Ia rela kenapa bukan ambulan yang mengantarkan mereka, yang menemani kesedihan mereka, Ambulan tidaklah layak untuk tubuh itu, karena ambulan  tidaklah lebih murah dari harga satu  kaleng susu.

-inspired by malnutrition in TV news - we should more care!-warnoise

Tentang waktu!

Indikator waktu adalah rotasi dan revolusi matahari…yang kemudian dicatat sebagai detik, menit, jam hari…..dan seterusnya ..sampai abad. Tetapi ada pertanyaan kemudian apakah benar kehidupan kita adalah sebuah rotasi, seperti halnya indikator yang dipakai, lalu apakah mungkin waktu itu dapat bergerak mundur.

Nyatanya kehidupan kita bergerak maju..bukanlah sebuah rotasi apalagi bergerak mundur…konsekuensinya kita tidak akan menemukan peristiwa yang sama, seperti lintasan partikel  yang melintasi suatu pusat lingkaran berjarak r…. Kita akan selalu meninggalkan peristiwa yang satu menuju peristiwa yang lain…Peristiwa yang kita lewati kemudian diistilahkan sebagai  sejarah atau masalalu, dan lintasan yang kita perkirakan akan kita lalui sebut saja sebagai harapan atau sering kali disebut sebagai masa depan…Konsekuensi perjalanan maju adalah kita tidak pernah akan melewati titik masa lalu untuk kedua kalinya. Tetapi ada kemungkinan kita akan melewati titik tersebut dalam dimensi ruang bukan dimensi waktu. Bisa diartikan dalam dimensi ruang yang acak, dan dalam dimensi waktu yang bergerak maju.

Oleh karena itu ada probabilitas bahwa  peristiwa masalalu bisa saja direkonstruksi ulang…dalam dimensi ruang tetapi tidak mungkin, (probabilitasnya nol) dalam dimensi waktu. Berarti pagi ini tidak akan sama dengan pagi kemarin, dan pagi ini tidaklah sama dengan pagi besok. Kalapun ada kesamaan dalam aktivitas misalnya pagi ini jam 8 lebih 6 menit lebih 3 detik.. lebih 50 milidetik  sedang memencet tombol ON computer, seperti halnya kemarin. Peristiwa ini punya kesamaan RUANG bukan kesamaan WAKTU, kesamaan ruang ada komputer, tembok, udara, dan lain-lain tempat kerja kita, dan jam yang  kita lihat adalah indikator saja. Matahari  bersinar cerah dipagi hari selain sebagi sumber energi yang maha dasyat juga adalah indikator, dan  senja sore juga adalah indikator bahwa kita telah sampai pada waktu tertentu, yang kemarin kita anggap sebagai sebuah masa depan, akan  berulang terus..terus dan terus dalam hal indikator memberikan tanda kepada kita, tetapi sesungguhnya kita sedang bergerak maju.

Setiap hari kehidupan ini bergerak maju, dan tak mungkin  akan berulang dalam hitungan waktu, seperti gerakan acak suatu titik dalam ruang tiga dimensi, ada kemungikan titik itu akan melewati titik masa lalu, tetapi dan pasti titik itu adalah titik yang pasti baru yang akan menutupi titik masa lalu, menghapus adalah sebuah ketidakmungkinan dalam ruang dimensi ini (yang kita sebut sebagai hidup). seperti halnya kita tidak akan bisa melupakan memori masa lalu, yang kita lakukan adalah menutupinya dengan memasukkan memori masa kini, dengan kuantitas  tertentu, dengan kadar  berbeda bagi setiap pribadi, maka tidaklah mengherankan bila ada seorang yang patah hati  hari ini, dan dua hari lagi dia sudah bisa melupakan semuanya, tetapi jangan heran pula jika putusnya sudah dua tahun yang lalu dan kini masih menangis juga. Kadang masa lalu adalah masa yang tidak ingin kita tutupi dengan masa kini, karena masa lalu adalah semua tentang kita, kesedihan, kebencian, kebahagiaan, keindahan, cinta, dan semuanya.

Maka dalam kehidupan yang bergerak maju, dalam dimensi ruang dan dimensi waktu banyak hal yang menjadi satu titik, ia adalah kesenangan, persahabatan, keluarga, teman, rekan kerja, semua yang kita temui pagi-pagi  yang lalu dan pagi-pagi ini. Semua tentang hidup dan yang menyertainya. Semua itu akan menjadi masalalu, matahari akan mengingatkan kita dengan senjanya. Dan jarum jam akan menunjuk angka juga untuk mengingatkan bahwa semua akan menjadi masa lalu dan tidak akan mungkin kita lewati lagi dimasa depan.

Andaikan kita ingin rekonstruksi kembali  akan banyak energi yang kita butuhkan, itu pun sifatnya sangatlah probabilistik, bisa berhasil, bisa juga tidak. Maka menghargai setiap detik hubungan dengan  dimensi ruang kita, rekan kerja, teman, sahabat, atasan, kompetitor, murid, bawahan, dan semua orang yang kita temuai hari ini, berarti kita sedang membuat satu titik-titik  keindahan dalam dimensi waktu kita. Dan sebaliknya jika kita membuat orang lain kecewa, sakit hati, dan sebagainya, kita sedang menciptakan titik-titik yang pada suatu hari kita akan menyesalinya, dan sayangnya kita tak akan bisa kembali lagi ke masa itu, KONSEKUENSI PERGERAKAN MAJU ADALAH KEMUSTAHILAN  UNTUK BERTEMU DENGAN PERISTIWA MASA LALU.

So… what do you think? –WarNo-