Archive for January, 2007

Indonesia-koe…

Seorang laki laki berperawakan agak tua duduk di kursi rodanya yang dilengkapi dengan mesin dan juga sistem kendalinya sehingga sepertinya ia mampu pergi kemana mana tanpa bantuan orang lain. Ia kini di sebuah halte bus yang berukuran sedang, disitu terpasang jadwal harian bus melewati halte tersebut, jarang sekali bus datang tidak tepat waktu, maka jadwal itu sangat berguna, sehingga sepertinya penumpang tahu kapan harus datang, tanpa perlu menunggu bermenit-menit di halte bis. Selain itu  juga terpampang iklan sebuah department store, kali ini mengiklankan discount khusus pakaian dalam, dan kebetulan sedikit erotic.  

Bis yang dinanti telah tiba, berhenti tepat dipinggir trotoar, pintu terbuka, satu persatu penumpang keluar, dan saat itu tak satupun peumpang yang memasuki bus. Sang supir bus keluar dari ruang kerjanya, sebuah ruang kecil dibelakang setir di bagian terdepan dari bus. Sang sopir menuju pintu utama bis, menarik sebuah jembatan kecil-penghubung-berupa plat, yang menghubungkan trotoar dengan  dengan bis, sehingga dengan mudah orang yang berkursi roda tadi masuk kedalam bis tentu beserta dengan kursi rodanya, diikuti oleh penumpang lainnya setelah plat penghubung itu di kembalikan ke posisi awalnya. Sang sopir kembali ke ruang kerjanya, dan  bis kembali berjalan. 

Di halte berikutnya, bis mulai padat, hujan rintik rintik, ditemani udara Hamburg yang dingin dikala winter bulan Desember. Satu persatu penumpang masuk ke dalam bis, semua penumpang mengambil posisi nya masing-masing seakan ada yag mengaturnya, tidak ada saling mendorong, tidak ada saling mendahului, mereka seakan tahu siapa yang dulu siapa yang dibelakangnya, meskipun tentu didalam bis lebih nyaman daripada di luar bis.

Begitulah sebagaian gambaran suasana sehari-hari perjalanan menggunakan bis di jerman, salah satu pendukung sistem transportasi yang menurut saya begitu sempurna. Selain mengunnakan bis sistem transportasi perkotaan ditunjang pula oleh  kereta. Kereta merupakan transportasi utama untuk menghubungkan antar wilayah yang agak berjauhan di dalam kota.

Di Hamburg sistem kereta ini disebut S-Bahn. Selain S-Bahn tadi ada juga U-Bahn, yang sebenarnya sama dengan S-Bahn, hanya harusnya U-Bahn ini adalah kereta bawah tanah, walaupun kenyataanya nggak selalu lewat bawah. Hampir semua lokasi-lokasi pusat aktivitas, seperti pusat kota, mall, universitas, dan tempat rekreasi mampu dicapai oleh sistem kereta ini. Sedangkan lokasi lokasi yang lebih spesifik seperti perumahan, dan sekolah sekolah,  ditunjang oleh bus yang serupa dengan “Bus-way” (thank to bus-way) disini  istilahnya “Hoch-Bahn“. Jadi hampir semua lokasi di wilayah Hamburg  mampu dicapai oleh sistem ini. Sebagai tambahan, masyararakat Hamburg bisa melihat jadwal bus maupun kereta api via internet sehingga mereka tahu kapan harus pergi dan kapan juga akan datang, sehingga tidak berlama-lama di jalan.

Bagi saya pribadi semua itu adalah hal hal yang wajar mengingat Jerman adalah negara maju, yang sudah sejak lama menjadi trend-setter technology, yang tentu tidaklah kesulitan membangun sistem transportasi yang seperti ini, “nyaman dan efisien”. Jika ingat Indonesia-negara tercinta-, saya jadi tidak berani membayangkan apakah Indonesia  mampu membangun sistem yang seperti ini, mungkin bisa tapi tidak tahu kapan akan terwujud.

Sebenarnya yang paling menarik bagi saya adalah cerita diawal tulisan ini dimana seorang sopir bus melayani penumpangnya dengan baik dan juga para penumpang yang sangat teratur keluar masuk bis, tanpa harus terjadi dorong mendorong. Sebagai tambahan,  jika seseorang menyebrang disuatu jalan di Hamburg maka mobil yang lewat akan berhenti sejenak,  menunggu pejalan kaki lewat,  jika memang di jalan itu adalah  zebra-cross meskipun tidak ada lampu lalu lintas, tapi jangan coba coba menyebrang jika tidak ada zebra-cross.

Dinegara yang serba ada, yang menganut paham “free will and responsibility” macam Jerman, dimana beragama apa tidak tidak masalah, pornography bukan masalah, mau mabuk juga bukan masalah. Melayani dan menghormati orang lain (serve and respect) menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Jerman sebagaimana tercermin dalam hal yang paling sederhana masalah naik bis dan menyeberang jalan.

Hal ini kontrast, dengan waktu misalnya;  saya naik angkot atau apapun itu dengan seenaknya dia akan memutar balik dan memindah saya ke angkot lain yang harus berhenti bermenit menit lamanya. Atau ketika sopir taksi tidak menghidupkan argonya dengan alasan rusak atau macet dan saya harus bayar dengan ongkos yang tidak reasonable. Atau ketika di terminal saya dipaksa oleh seseorang tertentu yang saya tidak kenal untuk naik bus tertentu, ketika saya jelaskan dengan baik baik bahwa saya harus menunggu temen, malah orang itu marah dan berkata yang tidak-tidak. Belum lagi ketika teringat ketika terjebak disebuah kemacetan di sebuah jalan di surabaya, sudah jelas-jalas lampu masih merah, tetapi klakson sudah saling bersautan. Kalo di jakarta lebih parah lagi, suara klakson ada dimana mana.

Membangun sistem transportasi yang nyaman dan efisien  memang butuh biaya mahal, tapi bagaimana dengan cara bersikap di dalam kendaraan atau di jalan. Apakah memang ada hubungannya antara sistem yang udah high technology content dan perilaku masyarakatnya. Kalo saya andaikan Jerman orang kaya dan Indonesia adalah orang miskin. Maka tesis bahwa orang miskin akan jauh berperilaku lebih baik dari orang kaya adalah tidak tepat. Memang kenyataannya begitu orang miskin tidak selalu berperilaku baik; orang kaya juga tidak selalu berperilaku buruk, jadi tesis bahwa perilaku di jalan di akibatkan oleh buruknya sarana akibat kurangya dana untuk memperbaikinya, perlu ditinjau ulang. Apakah ada hubungannya juga dengan pendidikan. Tesisnya berarti orang berpendidikan mestinya berperilaku lebih baik dari orang yang tidak berpendidikan, kalo yang ini terus terang saya masih nggak tahu tetapi mungkin bisa benar bisa juga tidak apalagi di negara tercinta yang bernama Indonesia.

NB: wah ternyata blog friendster agak susah juga ya..editing bisa bolak balik..nggak..ngefek juga!!! ini hasil editan paling maksimum..atau aku yang nggak canggih nieh :)

-warNO-

Cerita Siti abad 21

Bahkri udah lama pacaran sama Siti, suatu ketika Bahkri dengan  modal lulusan sarjana Ekonomi sebuah  PTS yang  sedikit ternama di surabaya melamar Siti, yang anak juragan tambak sekaligus mahasiswi akutansi di PTS ternama di Surabaya. Seperti akhir yang terduga lamaran Bahkri di tolak, tetapi Siti dan Bahkri masih juga pacaran.(Anak sekarang susah juga ya)

Suatu ketika setelah selesai malam mingguan Abah Siti Telepon “Assalamu’alaikum”, Suara abahnya yang jauh disana. “Waalaikum salam” Jawab siti, “Tumben Abah telepon” , Maklum dia heran soalnya Abahnya ini jarang sekali telepon kecuali ada hal hal penting, jadi wajar kalo Siti nanya seperti itu.

“Begini anakku, besok kalo bisa kamu pulang ada yang ingin Abah bicarakan”.

“Soal apa bah?”

“Udahlah besok aja kamu pulang ya!”

“Tapi aku banyak tugas Bah”

“Udahkah sejak kapan kamu bantah”

Wah kalo begini Siti nggak bisa nolak lagi. Kebiasaan Siti emang nggak bisa nolak..Apalagi kalo abahnya yang mengajukan permintaan.

Paginya Siti langsung cabut, pake bis patas jurusan Malang dan tentu di anterin sama si Bahkri sampe terminal. Sudah menjadi kebisaan mereka berdua, dimana ada Siti disitu ada Bahkri (cinta…mau gimana lagi)…Sampai dirumah, Siti disambut oleh senyum Abah dan Ibunya…seperti kebiasaan setiap kali Siti pulang kerumah; selesai  mandi, makan dan ganti baju Siti dipanggil keruang tamu oleh Abahnya,

"Ada yang ingin Abah bicarakan”,  Tutur Abah Siti pelan sambil mengelus rambut putrinya yang kini udah beranjak dewasa.

“Iya Siti udah tahu khan Abah telepon Siti untuk suruh pulang, jadi ada hal penting apa Bah?”, Jawab siti.

“Kemarin waktu abah pengajian, abah ketemu teman lama, Abah mau jodohkan kamu dengan adiknya temen abah itu”,

Abahnya siti emang suka to the point kalo ngomong jadi udah nggak pake basa basi lagi, dan Siti hanya terdiam.

Setelah selesai pembicaraan yang cukup singkat itu, Siti masuk kamar. Siti mulai  mikir dan menangis ketika ia cerita sama Bahkri melalui Handphone tentang masalah itu. Hati Siti berontak dan Ia merasa hanya sanggup meratapi nasibnya. Ia merasa ini tidak bener, masak sih nasibnya sama dengan Siti Nurbaya. Tapi kemudian Ia mulai bangkit dan meyakinkan  diri pokoknya Ia tidak mau dijodohin. Ia berencana untuk berontak terhadap keputusan abahnya dan menyusun rencana dan strategi untuk menolak perjodohan itu. Ia sebenarnya berencana untuk bunuh diri aja tetapi bagi Bahkri itu bukan hal yang menguntungkan jadi bagaimana kalo, “Kita kawin lari aja” begitu ucap Bahkri saat mengakiri curhat Siti. Dan siti merasa bahagia punya cowok yang  such a gentlemen” .

Malam berikutnya adalah waktu dimana Siti akan diperkenalkan dengan laki laki yang akan dijodohkan itu, laki laki itu namanya Akhmad umurnya 31 tahun, Ia adalah anak orang terkaya nomer dua di kota itu dan wajah dan bodinya lumayan, cakep dan terawat. Ia juga lulusan PTN ternama si Surabaya dan lulus dengan predikate “Cumlaude”, ia berhenti dari kerja di sebuah perusahaan perminyakan 6 bulan yang lalu dengan alasan bosan dan ingin mengurus usaha keluarga setelah ayahnya cukup tua. Akhmad pernah punya pacar dan mau menikah disaat dia umur 25 tahun dulu, tetapi karena pacarnya beralasan mau berkarir dulu maka mereka mengurungkan niat, tetapi karena dasar nasib, hubungan jarak jauh mereka kandas si tengah jalan, pacarnya menikah dengan teman se-kantornya di Jakarta.

Udah seharian Siti mengurung diri di kamar dan akhirnya malam itu Ia ketemu dengan Akhmad.  Pertama kali melihat Akhmad, Ia tidak merasakan perasaan luar biasa, maklum Siti udah berkomitmen udah tidak lagi jatuh cinta hanya karena persoalan wajah, istilahnya meskipun Vocalis Band ternama di Indonesia yang datang Ia meyakinkan diri untuk tidak akan jatuh cinta.

Setelah Abah Siti  berbincang bincang sebagai pidato pembukaan, kini tinggal mereka berdua di teras rumah yang terang oleh lampu neon, disebelah kolam yang penuh Ikan dan suara suara air yang tidak terlalu keras  yang sejak tadi jatuh dari langit, malam itu gerimis.

“Jadi ade Siti kuliahnya sekarang semester berapa?”, Sapa Akhmad.

“Semester tujuh”, Siti menjawab singkat.

“Jadi sudah mau lulus donk?”, pertanyaan Akhmad berikutnya.

“InsyaaAllah Mas, lagi cari cari data nieh, doain ya biar lancar aja”.

Percakapan-percakapan standar tetapi lama kelamaan mulai mencair dan mereka berdua kini tidak malu lagi untuk ketawa ngakak jika mereka cerita hal-hal lucu yang terjadi di kampus, Ahkmad seorang yang cerdas dan humoris. Tak terasa udah satu jam setengah  siti ngrobrol dengan Akhmad, tiba tiba achmad merasa sungkan dan akhirnya memutuskan untuk pulang, akhmad seorang yang cerdas, humoris dan sopan!.

“De’ aku pulang dulu ya!” Akhmad ijin hendak pulang.

“Bukannya masih hujan Mas!” , Entah sadar atau tidak Siti meminta Akhmad untuk tetap tinggal, Hujan kayaknya memberi keuntungan bagi Akhmad. Walaupun  sebenarnya kalo ia mau Ia  masih bisa pulang dengan  Honda Jazz yang  terparkir di depan rumah itu, yang hanya satu bulan yang lalu Ia beli dari sebagaian tabunganganya, Akhmad seorang yang cerdas,  humoris, sopan, dan kaya!. Akhirnya Ia tetap tinggal dan berbincang bincang dengan gadis putih berjilbab itu sampai lebih dari tiga jam.

Setelah bertukar khabar selama dua minggu ini dengan akhmad lewat HP ataupun telpon. Siti tidak juga mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa ada yang beda terhadap dirinya. Ia tiba tiba merasa bahagia jika Akhmad mengirim SMS yang dulu hanya Ia rasakan jika menerima SMS dari Bahkri. Ia juga merasa nggak bosan kalo ngobrol dengan Ahkmad, kadang bisa sampai berjam-jam. Siti kini tidak  tahu apa yang Ia rasakan.

Setelah satu bulan pertemuan nya dengan Akhmad dan SMS gelapnya setiap hari, Ia kini bersama Bahkri. Setelah bercakap-cakap satu jam lebih  kini percakapan mereka sampai pada puncaknya.

“Kapan kita  menikah sayang?” Tanya Bakhri, dan Siti kaget dengan pertanyaan itu walaupun  Ia masih ingat betul Ia pernah berkomitmen untuk menikah dengan Bahkri apapun yang terjadi. Janji itu ia ungkapkan ditengah redupnya lampu teras di kost-kostan Siti, ditemani rembulan yang sedikit redup karena terhalangi oleh  awan di musim hujan yang baru mulai.

”Kamu yakin” Jawab Siti

”Ya aku yakin, aku yakin apapun yang terjadi kita harus sama-sama, seperti komitment kita dulu!” begitu ungkap bahkri.

”Tapi aku sangat sayang sama abah, aku nggak mau mengecewakan Abah” Entah kenapa tiba tiba Siti bisa berkata seperti itu, mungkin ia memang sayang benar sama ayahnya itu.

”Tetapi bukannya cinta kita lebih penting”, Respon Bakhri dengan sedikit bingung.

”Tapi aku juga cinta sama Abah”. Siti menjawab dan Bakhri hanya diam, dan ini seperti pukulan telak bagi Bahkri.

”Seharusnya kita pisah” , Lanjut Siti dengan innocentya.

”Kenapa kamu nggak mau menungguku untuk menyakinkan Abah”, Bahkri masih ingin meyakinkan Siti.

”Abah searang yang keras, jarang sekali ia mau mengubah keputusannya”. Untuk kedua kalinya mendengar pernyataan Siti itu, Bahkri hanya terdiam, Ia kini pasrah, Bakhri seorang laki-laki biasa, tidak terlalu tampan, tidak terlalu kaya, tapi ia sopan  dan setia. Ia kini hanya merenung dan terdiam, ia tidak punya kata kata lagi.

”Lebih baik kita pisah, aku sayang kamu, aku nggak mau nyakitin kamu nanti, dan menjadi masalah yang berlarut larut, Jadi dari pada sakit nanti mending kita belajar dari sekarang” begitu ungkap Siti.

”Kalau enggak jodoh mau gimana lagi”,  Siti melanjutkan.

Siti si gadis yang nggak terlalu cantik itu memang gadis yang cerdas, diplomatis, dan penuh dengan strategi. Sering kali Bahkri dibuat yakin dan setuju atas apapun kemauan Siti. Bagi bakhri ini adalah kebingungan yang luar biasa kenapa tidak sejak 6 bulan yang lalu Siti ngomong begitu, kenapa baru sekarang. Akhirnya Bahkri patah hati.

Tiga bulan berikutnya Abah Siti dan orang tua Akhmad merencanakan pernikahan Siti dan Akhmad yang direncanakan  tahun depan,  bulan Januari tanggal 3. Berita itu akhirnya tersebar juga di seantero kampus. Suatu saat salah satu temen deket  siti denger berita ini,  Ia kirim SMS kepada siti.

”Selamat ya, btw Lue mo  kawin ma siapa sieh?” tanya temennya itu

“Sama anak sini, namanya Akhmad!”.

“Terus si Bahkri di kemanain dunk J

”kALAU bISA bERNASIB SEPERTI sITI NURhALIZA KENAPA HARUS SEPERTI sITI nURBAYA HE..HE..10X”.

-warNO-

cinta oh cinta :)

Suatu ketika ditengah ngbrol-ngobrol santai aku ditanya oleh seorang teman, “Mas kamu percaya cinta nggak?”..Aku bilang enggak, terus dia nanya lagi, “Emang kenapa?”. “Cinta itu cuman manipulasi aja, itu cuman kamuflase aja atas keinginan manusia berkembang biak, jadi biar mereka lebih sopan menyebut kebutuhan untuk berkembang biak sebagai cinta”, jawabku dengan diplomatis dan sangat percaya diri karena aku bicara dengan temen  cewek yang yunior, jadi pedenya minta ampun sambil sok wise. ”Kenapa bisa begitu?” dia merespon dengan heran. “Ya kamu bisa lihat sendiri kan, kalo pacaran udah lama bisa putus juga, atau bahkan udah merried bisa juga cerai terus apa cinta memang bisa berubah ubah, jadi cinta itu omong kosong aja, nggak ada itu cinta”.

Dia mengerutkan kepala..tapi yuniorku ini type orang yang cerdas dan nggak mau kalah kalo ngomong. “wih sempit juga  pikiranmu mas” dia bilang. Aku kaget juga baru pertama kali ada junior yang bilang otakku sempit…terus dia nanya lagi “Jadi kamu nggak pernah jatuh cinta dong mas” Aku bingung sambil mikir, apa jawabanya, soalnya   jujur aku pernah sangat suka sama seseorang, tapi aku masih bingung apa itu bisa disebut sebagai cinta atau itu hanya suka biasa biasa aja…toh sekarang aku udah nggak mikirin dia lagi..apa layak aku sebut sebagai cinta..ditengah kebingunganku dia rupanya tau kalo aku lagi bingung. “Gini aja dech, kamu pernah nggak sangat suka seseorang, lalu kamu merasa bahagia jika kamu lagi nelpon dia, atau terima sms dia, kamu inget dia berkali kali selama sehari”, temenku itu mempermudah pertanyaannya. ”Ya jelas  pernah dong”, Jawabku dengan yakin. Lalu dia meneruskan statementnya, “Lalu kamu jelous kalo cewek yang kamu suka itu cerita tentang cowo lain, terus kamu membayangkan suatu saat kamu bisa bersama cewek ini untuk melangkah lebih jauh, membayangkan kamu bisa diterima apa adanya, dan cewek itu mau membagi semua suka dukanya sama kamu dan kamu juga begitu, dan kamu bahagia dengan hanya bayanganmu itu”. Wah kalau udah begini aku hanya diam, karena dia sepertinya tahu apa yang pernah dan akan aku pikirkan.

“Kamu hanya melihat dengan mata mas, dan berpikir dengan kepala, bahwa ketika putus pacaran atau cerai  berarti cinta mereka telah hilang yang berarti cinta itu tidak ada.., tapi menurutku nggak begitu cinta itu jumlahnya tak terbatas, tak terukur dan terlihat, dan mungkin hanya sebagain yang bisa dpikirkan oleh manusia, bagian yang lainnya masih rahasia, jadi putus cinta ato cerai bukan berarti cinta itu hilang tetapi cinta masih ada dan tetap berbekas dalam diri mereka, hanya karena sekarang persepsi mereka tentang cinta berbeda saja, nggak bisa melihat satu cinta, tapi cinta nggak pernah mati, cuman nggak bisa dipahami dengan mudah dengan kepala yang berbeda, karena cinta juga nggak bisa dipahami dengan kepala tetapi emosi dan  juga kedekatan kita dengan Tuhan”, Temanku menjelaskan dengan sangat yakin, aku juga nggak tahu dia belajar dari mana, yang pasti aku mulai mengakui dia ada benarnya juga..tapi aku coba meyakinkan, “Ach masak sieh”!!. “La iya kan mas, masa sieh  kamu  merasa bahagia  di  kepala, khan enggak…tapi jauh nggak bisa di ungkapkan dengan hanya perkataan aja, kamu bisa merasa  bahagia yang kadang  mas sendiri nggak akan menemukan logikanya kenapa  bisa bahagia hanya karena menerima sms atau menerima telepon dari cewek yang kamu suka itu.. atau kamu bahagia hanya kerena telepon yang menanyakan  apakah mas udah makan siang apa belum”. “Tapi bukannya kamu yang telpon aku siang tadi”, Jawabku!.  ”Iya tapi aku nanyain DVD yang kamu pinjam itu!!”. “Tapi aku bahagia lho!”  “Najis Mas!!”…..GLUDACK!!!!!!!!!!!!

Regards

WarNo