Indonesia-koe…
Seorang laki laki berperawakan agak tua duduk di kursi rodanya yang dilengkapi dengan mesin dan juga sistem kendalinya sehingga sepertinya ia mampu pergi kemana mana tanpa bantuan orang lain. Ia kini di sebuah halte bus yang berukuran sedang, disitu terpasang jadwal harian bus melewati halte tersebut, jarang sekali bus datang tidak tepat waktu, maka jadwal itu sangat berguna, sehingga sepertinya penumpang tahu kapan harus datang, tanpa perlu menunggu bermenit-menit di halte bis. Selain itu juga terpampang iklan sebuah department store, kali ini mengiklankan discount khusus pakaian dalam, dan kebetulan sedikit erotic.
Bis yang dinanti telah tiba, berhenti tepat dipinggir trotoar, pintu terbuka, satu persatu penumpang keluar, dan saat itu tak satupun peumpang yang memasuki bus. Sang supir bus keluar dari ruang kerjanya, sebuah ruang kecil dibelakang setir di bagian terdepan dari bus. Sang sopir menuju pintu utama bis, menarik sebuah jembatan kecil-penghubung-berupa plat, yang menghubungkan trotoar dengan dengan bis, sehingga dengan mudah orang yang berkursi roda tadi masuk kedalam bis tentu beserta dengan kursi rodanya, diikuti oleh penumpang lainnya setelah plat penghubung itu di kembalikan ke posisi awalnya. Sang sopir kembali ke ruang kerjanya, dan bis kembali berjalan.
Di halte berikutnya, bis mulai padat, hujan rintik rintik, ditemani udara Hamburg yang dingin dikala winter bulan Desember. Satu persatu penumpang masuk ke dalam bis, semua penumpang mengambil posisi nya masing-masing seakan ada yag mengaturnya, tidak ada saling mendorong, tidak ada saling mendahului, mereka seakan tahu siapa yang dulu siapa yang dibelakangnya, meskipun tentu didalam bis lebih nyaman daripada di luar bis.
Begitulah sebagaian gambaran suasana sehari-hari perjalanan menggunakan bis di jerman, salah satu pendukung sistem transportasi yang menurut saya begitu sempurna. Selain mengunnakan bis sistem transportasi perkotaan ditunjang pula oleh kereta. Kereta merupakan transportasi utama untuk menghubungkan antar wilayah yang agak berjauhan di dalam kota.
Di Hamburg sistem kereta ini disebut S-Bahn. Selain S-Bahn tadi ada juga U-Bahn, yang sebenarnya sama dengan S-Bahn, hanya harusnya U-Bahn ini adalah kereta bawah tanah, walaupun kenyataanya nggak selalu lewat bawah. Hampir semua lokasi-lokasi pusat aktivitas, seperti pusat kota, mall, universitas, dan tempat rekreasi mampu dicapai oleh sistem kereta ini. Sedangkan lokasi lokasi yang lebih spesifik seperti perumahan, dan sekolah sekolah, ditunjang oleh bus yang serupa dengan “Bus-way” (thank to bus-way) disini istilahnya “Hoch-Bahn“. Jadi hampir semua lokasi di wilayah Hamburg mampu dicapai oleh sistem ini. Sebagai tambahan, masyararakat Hamburg bisa melihat jadwal bus maupun kereta api via internet sehingga mereka tahu kapan harus pergi dan kapan juga akan datang, sehingga tidak berlama-lama di jalan.
Bagi saya pribadi semua itu adalah hal hal yang wajar mengingat Jerman adalah negara maju, yang sudah sejak lama menjadi trend-setter technology, yang tentu tidaklah kesulitan membangun sistem transportasi yang seperti ini, “nyaman dan efisien”. Jika ingat Indonesia-negara tercinta-, saya jadi tidak berani membayangkan apakah Indonesia mampu membangun sistem yang seperti ini, mungkin bisa tapi tidak tahu kapan akan terwujud.
Sebenarnya yang paling menarik bagi saya adalah cerita diawal tulisan ini dimana seorang sopir bus melayani penumpangnya dengan baik dan juga para penumpang yang sangat teratur keluar masuk bis, tanpa harus terjadi dorong mendorong. Sebagai tambahan, jika seseorang menyebrang disuatu jalan di Hamburg maka mobil yang lewat akan berhenti sejenak, menunggu pejalan kaki lewat, jika memang di jalan itu adalah zebra-cross meskipun tidak ada lampu lalu lintas, tapi jangan coba coba menyebrang jika tidak ada zebra-cross.
Dinegara yang serba ada, yang menganut paham “free will and responsibility” macam Jerman, dimana beragama apa tidak tidak masalah, pornography bukan masalah, mau mabuk juga bukan masalah. Melayani dan menghormati orang lain (serve and respect) menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Jerman sebagaimana tercermin dalam hal yang paling sederhana masalah naik bis dan menyeberang jalan.
Hal ini kontrast, dengan waktu misalnya; saya naik angkot atau apapun itu dengan seenaknya dia akan memutar balik dan memindah saya ke angkot lain yang harus berhenti bermenit menit lamanya. Atau ketika sopir taksi tidak menghidupkan argonya dengan alasan rusak atau macet dan saya harus bayar dengan ongkos yang tidak reasonable. Atau ketika di terminal saya dipaksa oleh seseorang tertentu yang saya tidak kenal untuk naik bus tertentu, ketika saya jelaskan dengan baik baik bahwa saya harus menunggu temen, malah orang itu marah dan berkata yang tidak-tidak. Belum lagi ketika teringat ketika terjebak disebuah kemacetan di sebuah jalan di surabaya, sudah jelas-jalas lampu masih merah, tetapi klakson sudah saling bersautan. Kalo di jakarta lebih parah lagi, suara klakson ada dimana mana.
Membangun sistem transportasi yang nyaman dan efisien memang butuh biaya mahal, tapi bagaimana dengan cara bersikap di dalam kendaraan atau di jalan. Apakah memang ada hubungannya antara sistem yang udah high technology content dan perilaku masyarakatnya. Kalo saya andaikan Jerman orang kaya dan Indonesia adalah orang miskin. Maka tesis bahwa orang miskin akan jauh berperilaku lebih baik dari orang kaya adalah tidak tepat. Memang kenyataannya begitu orang miskin tidak selalu berperilaku baik; orang kaya juga tidak selalu berperilaku buruk, jadi tesis bahwa perilaku di jalan di akibatkan oleh buruknya sarana akibat kurangya dana untuk memperbaikinya, perlu ditinjau ulang. Apakah ada hubungannya juga dengan pendidikan. Tesisnya berarti orang berpendidikan mestinya berperilaku lebih baik dari orang yang tidak berpendidikan, kalo yang ini terus terang saya masih nggak tahu tetapi mungkin bisa benar bisa juga tidak apalagi di negara tercinta yang bernama Indonesia.
NB: wah ternyata blog friendster agak susah juga ya..editing bisa bolak balik..nggak..ngefek juga!!! ini hasil editan paling maksimum..atau aku yang nggak canggih nieh
-warNO-
Comments(7)