Archive for March, 2007

Serius..!!

Sebut saja B, Ia berumur 30 tahun, udah punya dua anak, istrinya tidak bekerja. Sudah tiga tahun ini dia kerja di Jakarta, kerjaannya serabutan dan tentu penghasilannya tidaklah jelas. Tiga bulan ini rejekinya seret, dan selama tiga bulan itu kontrakan rumahnya belum dibayar. Maka besok pagi adalah hari terakhir dia harus bayar kontrakan itu, jika enggak dia dan keluarganya harus segera keluar. “Ini serius, bayar atau keluar!” Begitu kata yang punya rumah.

Seorang anak pengin kuliah, SPMB dua kali enggak beruntung juga, bukan karena enggak pinter, tetapi hanya tidak terlalu pinter. Cari beasiswa di sekolah swasta! mana juga ada. Akhirnya ia mutuskan kuliah D3 di perguruan tinggi swasta yang tidak terlalu bonafit juga. Besok harus bayar 5 juta sebagai cicilan uang gedung kalo enggak ya nggak dapet nomer mahasiswanya donk!. “Saya tidak sedang bercanda, serius! bayar atau  tidak kuliah!” Begitu kata petugas administrasinya.

Seorang ibu punya hutang di bank, ceritanya sejak tiga tahun yang lalu suaminya enggak bisa bekerja lagi lantaran sakit dan harus berobat, kemudian ibu itu pinjam uang di bank untuk menyambung hidup dan menjadikan rumahnya yang merupakan harta terakhir sebagai jaminan. berharap suaminya akan sembuh, harapan tinggal harapan suaminya enggak sembuh semuh juga, eh malah sakit parah. Akhirnya utang di bank tidak bisa dibayar dan ini serius besok pengadilan akan menyita rumahnya!!

Hidup penuh dengan hal hal serius!!

Seorang mahasiswa tidak pernah masuk kuliah, alasannya nggak pernah jelas, dikasih tugas juga enggak dikerjakan. Tugas yang  kedua, dia mengerjakan, tapi sayang jawabannya sama persis dengan jawaban temannya. Tugas ketiga disuruh browsing di internet, eh dapetnya artikel satu lembar, dan enggak di terjemahkan pula ke bahasa indonesia, padahal tugasnya bikin artikel bukan print artikel, terakhir setelah tahu hasil ujiannya dapet 30, ia datang dan minta diluluskan, alasan kalo enggak dirinya akan di  DO. Dosennya berpikir “Apakah mahasiswa ini tidak sedang bercanda”

Sebuah cerita dari teman; Seorang bekerja di kantor X. dateng jam 8 lebih sedikit, kemudian buka buka koran, terus buka komputer..browsing sana sini..udah dech jam 12. Setelah itu break makan siang..untung masih ingat sholat..jam satu balik kantor buka kerjaannya ngerjain dikit..jam dua udah mulai agak agak limbung. Coba jalan jalan, katanya untuk refreshing masak kerja mulu begitu katanya…ketemu temennya di ruang sebelah..ngobrol nggak karuan, eh udah jam tiga ..ingat kerjaanya belum selesai..baliklah dia..bekerja lagi..eh udah jam 4, terus pulang. “aku kan dibayar sampe jam 4” begitu katanya

Pada kenyataanya banyak juga yang menganggap hidup ini tidaklah serius!

Kelihatannya orang yang mengontrakan rumah itu tega karena mengusir orang yang jelas memang nggak punya uang. Sebuah sekolah juga kelihatan tega nggak menerima seseorang untuk kuliah karena enggak punya uang. Kok tega juga sebuah bank menyita rumah sebuah keluarga yang lemah. Tega kemudian menjadi sesuatu yang sulit dipikirkan, ditakuti, tetapi sudah nyata, dan biasa terjadi.

Kenyataannya hidup bukanlah main main….Serius!!

“I love you” really?

Ada yang tahu apa bahasa Indonesianya “love” kalau seseorang bilang “I love you” apa artinya “aku sayang kamu”, atau “Aku cinta kamu”. Kelihatannya memang sinonim, tapi kayaknya harus hati-hati, karena bagi sebagian orang kata “cinta” atau kata “sayang” punya makna yang berbeda, bahkan bisa jadi menunjukan suatu tingkatan dan kualitas yang berbeda pula.

Umumnya kata cinta digunakan oleh  sebagaian orang untuk urusan personal yang lebih sempit dibanding kata sayang; contohnya dalam hubungan romantis antara dua orang. Sedangkan dalam hubungan yang lebih luas, banyak orang lebih suka menggunakan kata sayang, contohnya hubungan dengan sahabat. Mengingat sahabat umumnya lebih dari satu.

Beberapa orang berpendapat bahwa bahasa selalu berkaitan dengan faktor budaya, makanya seringkali banyak kata kata asing yang tidak bisa langsung diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain. Sebagai contoh kata “melakukan” dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa ingris bisa “do” “make” atau “conduct”, tergantung dimana kata itu dimaksudkan (kata akan menghasilkan bahasa Inggris yang natural bila phrasenya adalah hasil dari pasangan kata yang sesuai).

Budaya bisa mengandung makna segala hasil budi dan daya, atau segala hasil pemikiran manusia baik dari hasil pemikiriran dan physical implementation-nya maka disinilah bahasa sangat dekat dengan hasil pemikiran dan aktualisasi fisiknya.

Jika pengertian diatas  di gunakan maka akan ditemukan hal yang menarik dalam kalimat “I love you”, ataupun “Aku cinta kamu”. Untuk lebih mudahnya anggap saja kini dua kalimat itu punya pengertian yang sinonim. Kalimat itu kalo dicermati makna fisiknya kalimat tersbut  bisa jadi bukan pernyatan ingin Memberi cinta tetapi adalah sebuah pernyataan ingin Meminta cinta. Benarkah?

Setiap kali sesorang bilang bilang “I love you”, kebanyakan orang nggak akan merasa happy kalo pasangannya tidak membalasnya dengan jawaban “I love u too”…atau ketika seseorang mengatakan “Aku cinta kamu”..maka kebanyakan orang akan butuh jawaban “Aku juga cinta sama kamu”. Tetapi kebayaknya ini hanya terjadi pada kasus hubungan cinta lelaki dan perempuan (romantic love) bukan jenis sayang pada yang lain; contohnya sayang antara anak dan ibu, atau perasaan sayang seseorang terhadap sesama manusia yang tidak ada unsur romantic-nya

Fenomena diatas merupakan  salah satu alasan kenapa seseorang yang patah hati akan merasakan perasaan yang multi tidak karuan (maksudnya campur aduk antara benci, dendam dan juga cinta, makanya ada syair lagunya slank “…I love U but I hate U…). Hal itu terjadi jika sesorang tidak mendapatkan jawaban “I love you too”, dan kebanyakan mengalami penderitaan. Teori umumnya seperti yang dikatakan Helen fisher (pengarang buku why we love) dan diulas juga di majalah newscientist.com. bahwa dalam urusan cinta setiap manusia cenderung dalam situasi trade off antara pleasure and pain (maksimalisasi kesenangan dan meminimalkan penderitaan). Jika cinta ditolak maka seseorang dalam kondisi pain tapi jika diterima maka dalam kondisi pleasure.

Maka tak mengherankan jika pasangan dalam kondisi saling mencintai, mereka menemukan titik pleasurenya, titik kesenangan yang paling tinggi. Tetapi sebaliknya jika cinta ditolak seseorang akan sangat menderita(pain) . Maka mungkin ada nggak tepatnya juga kalo ada yang bilang aku mencintaimu adalah sebuah ungkapan ingin memberi dengan tulus, karena pada kenyataanya kalo cinta itu ditolak akan terjadi amarah dan pederitaan baginya. Bisa jadi atau boleh jadi kalo sesorang bilang aku  mencintaimu, sebenarnya ia dalam konsidi ingin mencintai dirinya sendiri dalam context ingin mendapatkan pleasure untuk dirinya, buktinya kalo gagal ia akan marah dan menderita karena tidak dapat mencapai kondisi pleasure itu. Jadi kalo ada orang yang bilang “aku mencintaimu” mungkin maksud dia adalah “cintailah aku, kalo enggak awas ya!! he..he..!!!)