Kupu-kupu di ruang kaca
Suatu sore didalam bus diiringi oleh terik matahari yang tidak menyengat. Langit cerah berdampingan dengan matahari bersinar terang di ujung langit. Musim semi memang telah tiba, serangga mulai bermunculan, termasuk juga seekor lebah yang kini sedang terperangkap disini, di dalam bus.
Sang Lebah hanya memutar-memutar saja disana,di sebuah jendela yang tembus pandang “kaca”. Sesekali berhenti, memutar lagi, berhenti lagi, hingga suatu saat berhenti cukup lama dan terbang lagi, begitu terus.
Sebuah memori lama kembali menginginkan kesadaran. Seekor kupu kupu indah terdiam di suatu sudut jendela “kaca” di bagian ruagan kantor setahun yang lalu, meskipun banyak lubang angin di sudut-sudut jendela itu, kupu kupu itu tidak bisa keluar dan mati. Andai saja ia mampu menemukan jalan yang cukup terbentang di sudut jendela mungkin ia tidak disana ia mungkin tidak akan mati. Keindahan yang ternyata hanya sampai disitu.
“Kaca” bukanlah sebuah dinding bagi lebah dan kupu kupu. Tidak mungkin di tembus kecuali pecah. Tidak ada didalam insting-nya bahwa ada jalan lain untuk keluar menuju kebebasan. Lubang angin yang bukan kaca di sekitar jendela, atau pintu bus yang terbuka ketika berhenti di halte.
Hanya keyakinan berusaha keras, hanya keyakinan dan terbang terus sebagai bagian yang disebutnya sebagai usaha. Hanya terbang, dan terus terbang akhirnya mati. Keyakinan dan usaha tidaklah mesti berarti. Karena keyakinannya di dunia yang itu-itu saja, dunia yang memberikan keyakinan bahwa disanalah pintu keluar, sedangkan di tempat lainlah berdiri pintu yang sesungguhnya.
Dunia yang usang dan primitive. Dunia yang itu itu saja, dunia jaman siapa yang banyak harta dialah yang berkuasa dan berhak memperkosa dan memaksa. Dunia manusia mengendalikan manusia, dunia yang tidak juga berkembang, meskipun klaim manusia modern ada di mana mana. Klaim tentang bermacam macam kecerdasan meskipun tidak lebih hanya sebuah metaphore.
Sebuah arus yang sama “materialis” dibungkus kata gaul dan metropolis. Sebuah pemahaman yang katanya “visionis” tetapi nyatanya itu-itu saja “karir, uang, dan jabatan”.
Dunia itu itu saja, dunia dengan senyum palsu setiap pagi dan ketawa lepas setiap malam, sedangkan di ujung yang lain masih ada juga makluk yang bernama manusia harus meneteskan air mata. Airmata dan tertawa adalah satu panggung, panggung kehidupan. Tuhan mungkin sengaja menciptakan semua ini, sebagaimana Tuhan menciptakan kupu kupu indah dan mentakdirkannya mati di sudut jendela kaca. Tetapi kemanusiaan adalah pikiran dan pikiran adalah takdir.
Salam,
~w~
Comments(1)