Archive for July, 2007

Kupu-kupu di ruang kaca

Suatu sore didalam bus diiringi oleh terik matahari yang tidak menyengat. Langit cerah berdampingan dengan matahari bersinar terang di ujung langit. Musim semi memang telah tiba, serangga mulai bermunculan, termasuk juga seekor lebah yang kini sedang terperangkap disini, di dalam bus.

Sang Lebah hanya memutar-memutar saja disana,di sebuah jendela yang tembus pandang “kaca”. Sesekali berhenti, memutar lagi, berhenti lagi, hingga suatu saat berhenti cukup lama dan terbang lagi, begitu terus.

Sebuah memori lama kembali menginginkan kesadaran. Seekor kupu kupu indah terdiam di suatu sudut jendela “kaca” di bagian ruagan kantor setahun yang lalu, meskipun banyak lubang angin di sudut-sudut jendela itu, kupu kupu itu tidak bisa keluar dan mati. Andai saja ia mampu menemukan jalan yang cukup terbentang di sudut jendela mungkin ia tidak disana ia mungkin tidak akan mati. Keindahan yang ternyata hanya sampai disitu.

“Kaca” bukanlah sebuah dinding bagi lebah dan kupu kupu. Tidak mungkin di tembus kecuali pecah. Tidak ada didalam insting-nya bahwa ada jalan lain untuk keluar menuju kebebasan. Lubang angin yang bukan kaca di sekitar jendela, atau pintu bus yang  terbuka ketika berhenti di halte.

Hanya keyakinan berusaha keras, hanya keyakinan dan terbang terus sebagai bagian yang disebutnya sebagai usaha. Hanya terbang, dan terus terbang akhirnya mati. Keyakinan dan usaha tidaklah mesti berarti. Karena keyakinannya di dunia yang itu-itu saja, dunia yang memberikan keyakinan bahwa disanalah pintu keluar, sedangkan di tempat lainlah berdiri pintu yang sesungguhnya.

Dunia yang usang dan primitive. Dunia yang itu itu saja, dunia jaman siapa yang banyak harta dialah yang berkuasa dan berhak memperkosa dan memaksa. Dunia manusia mengendalikan manusia, dunia yang tidak juga berkembang, meskipun klaim manusia modern ada di mana mana. Klaim tentang bermacam macam kecerdasan meskipun tidak lebih hanya sebuah metaphore.

Sebuah arus yang sama “materialis” dibungkus kata gaul dan metropolis.  Sebuah pemahaman yang katanya “visionis” tetapi nyatanya itu-itu saja “karir, uang, dan jabatan”.

Dunia itu itu saja, dunia dengan senyum palsu setiap pagi dan ketawa lepas setiap malam, sedangkan di ujung yang lain masih ada juga makluk yang bernama manusia harus meneteskan air mata. Airmata dan tertawa adalah satu panggung, panggung kehidupan. Tuhan mungkin sengaja menciptakan semua ini, sebagaimana Tuhan menciptakan kupu kupu indah dan mentakdirkannya mati di sudut jendela kaca. Tetapi kemanusiaan adalah pikiran dan pikiran adalah takdir.

Salam,

~w~

Smart

Lebih mudah  mana memilih antara dua hal, atau memilih diantara banyak hal. Mungkin sebagian dari kamu akan menjawab “tergantung donk, milih apa dulu”, jawaban tergantung inilah yang merupakan indikasi suatu kesulitan dalam memilih. Lebih mudah memang jika ada pilihan dari pada tidak ada pilihan. Jika pilihannya dua,  bagi sebagian orang akan relatif mudah, tetapi bagaimana jika pilihan itu tiga, empat, atau lebih dari itu, bagaimana memilihnya seringkali mejadikan kita pusing kepala, apalagi jika ternyata yang kita pilih adalah pilihan yang kurang tepat.

Dunia berkembang dengan pertumbuhan yang exponential, dengan pertumbuhan itu jumlah pilihan yang menghadang kita akan terus bertambah terus setiap harinya. Apakah ini akan mempermudah seseorang, jawabannya bisa iya bisa juga tidak.

Contohnya, sekarang dengan akses internet, seseorang bisa menikmati berita dari mana saja, kapan saja, dan dimana saja, semakin banyak pilihan, tidak seperti dulu lagi, harus menunggu berita dari TVRI saja misalnya. Tentu dengan semakin banyaknya berita ini, harusnya orang akan menjadi semakin pintar, karena adanya penyebaran informasi yang semakin banyak, cepat dan sedikit batas, tetapi apakah kenyataannya begitu, khusus bagi bangsa kita saya rasa belum.

Kenapa bisa begitu, saya kira problemnya adalah pada soal memilih tadi. Semakin banyak berita berarti semakin sulit untuk menentukan mana yang dibaca mana yang tidak, mana yang bisa membikin sakit kepala, bikin cerdas, dan mana pula yang hanya membuat kita menjadi tambah bodoh. Dunia yang begitu banyak informasi, yang seharusnya menjadi seperti ladang yang luas yang penuh dengan tanaman yang menyehatkan, tapi lama-lama akan  menjadi seperti pasar yang kacau, padat, dan penuh dengan sampah. Akhirnya sebagain besar orang akan kesulitan untuk memilih mana barang bagus, dan mana pula yang pada dasarnya adalah sampah semata.

Seperti kata Michael Gelb, dulu orang orang orang kesulitan untuk belajar meditasi karena harus pergi ke Tibet, tetapi sekarang orang sulit memilih website mana yang menyediakan meditasi yang benar, (How to think like Leonardo da Vinci, 2000). Hal ini memperkuat dugaan bahwa sekarang kesulitan sesorang justru menentukan pilihan bukan pada tahapan mencarinya.

Disinilah menurut saya pentingnya konsep “smart” perlu direvisi ulang pada diri kita masing-masing sesuai dengan jamannya. Seseorang yang dikatakan “smart” adalah sesorang yang bisa memilih dengan tepat berdasarkan kebutuhan. Bukan hanya pada kemampuan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan menimbunnya di dalam otak.

Keahlian memilih akan menjadi instrument penting karena sebagian besar waktu hidup kita adalah untuk memilih. Semakin tepat membuat pilihan berarti semakin reliablenya hidup kita selanjutnya. Semakin reliable berarti ada kemungkinan besar bahwa kita akan mengakiri hidup ini dengan happy ending.

Dalam agama Islam pun membuat pilihan adalah urusan yang cukup penting, sehingga ada sholat khusus, shalat istikharah, sholat bagi seseorang yang ingin membuat keputusan. Ini menandakan bahwa proses mengambil keputusan memang bukan sesuatu yang mudah.

Maka hati hati dalam mengambil keputusan atas suatu pilihan, mengingat sulitnya mengambil keputusan itu, dengan juga mepertimbangkan efeknya yang luar biasa bagi kehidupan selanjutnya. Hati hati untuk mengatakan”tidak” atau ”iya”, terhadap sesuatu, hati hati bukan kecurigaan, karena kecurigaan lebih berasosiasi negatif, sedang hati-hati menurut saya lebih kearah sumbu positif. So selamat memilih and be smart!

salam,

~w~