pagi
“Ah laki laki, Apa yang kamu cari ” seorang perempuan berkata. Laki laki pagi tersenyum dalam cerah langit yang tak berawan. Hanya diam saja.
“Bukannya kecantikan dan tubuh seksi yang kamu cari”, tebak perempuan itu.
“Kalo itu, aku bisa beli”, Laki laki itu dimasuki dunia yang terlalu siang dan gersang, yang tidak paham alur cerita tapi fakta telah ada di depan mata. Tidak tahu siapa penulis cerita, tidak menahu soal produser, yang ia tahu film itu sudah jadi, berjudul “prostitusi, uang dan laki-laki”. Ia melihat fakta.
“Bukannya perempuan cerdas yang kamu cari?” Perempuan itu bertanya lagi.
“Bukannya aku sudah cukup cerdas, aku tidak mencari saingan” Jawab laki laki itu. Ia pikir kecerdasan tak bisa diukur satu alat saja. Dan lebih sering juga tak bisa dilihat oleh mata dalam perbuatan. Kecerdasan dalam pikiran, termasuk hati didalamnya.
“Ah kamu sombong”, Perempuan senja menuduh
“Orang diam saja bisa disebut sombong” Jawabnya dalam paradigma ruang persepsi, dan sombong adalah persepsi sang pembaca.
“Bukannya yang kamu cari adalah yang menarik, anggun….begitukah?” perempuan itu masih punya banyak pertanyaan yang bersilang dengan tampak fisik dan kecurigaan.
Laki laki terdiam, tidak tersenyum. Wajahnya mengisyaratkan kebingungan dalam pilihan antara garis dusta dan kejujuran. Matahari, sang bunda mencahaya ke dalam pikir dan hati setiap hari, setiap waktu.
“Menarik!”, nada tinggi laki laki pagi,
“Bukannya semua perempuan menarik” pekiknya
“Terus apa yang kamu cari?” Ini adalah pertanyaan yang kesekian kali, tidak sering terjawab dengan mudah olehnya, tidak ada pengetahuan tentang itu, kecuali sedikit saja. Itu tidak lebih mudah daripada menemukan pulau terpencil di ujung dunia tanpa peta.
“Menemukan satu peristiwa, dimana ada hati berkata.. inilah .. merangkai peristiwa sesudahnya, satu persatu, tak perlu tergesa gesa, santai saja, perlahan…! Hitam putih kuning biru…. Memaksa otak menumbuhkan bunga tidur di kala malam..dan menjadi minuman di kala pagi…airmata dan gigi gigi yang belum tumbuh..menjadi cerita yang lebih panjang lagi..sebutlah kemudian itu apa saja..terserahmu” Laki laki membuat prosa pagi dalam hening samudra dalam, yang mungkin akan segera terik dan tiba tiba menjadi badai.
Perempuan itu kini telah bersayap dalam hati yang tidak percaya, dalam pikiran curiga. Dan ia terbang jauh menuju langit para bidadari untuk berembuk siapa yang akan turun menemani laki-laki pagi berlayar. Dengan ijin dewa tentunya.
~w~
Comments(1)