pacarku sayang!
Gerimis malam itu memecahkan tangisnya, hujan tidak sederas airmatanya, dan badai tidak sekuat benci dalam hatinya. Perasaan yang tidak begitu jelas dari mana sumber sesungguhnya, tapi yang bisa dipastikan laki laki yang memicunya. Laki-laki yang selama ini ia sebut sebagai pacar. Meskipun ia tidak tahu darimana istilah “pacar” itu datang. Suatu kali aku iseng bertanya kepadanya “Emang pacar itu apa?”. “Ah nggak penting lah istilah, kamu tahu sendiri kenyataannya bagaimana” jawabnya.
“Iya seih, Raja Majapapit juga nggak pernah pacaran, makanya di dalam buku sejarah tidak ada istilah pacaran, di Eropa juga tidak ada istilah pacaran yang ada itu boyfriend, apa sama boyfriend dan pacar, tidak tahu, yang jelas kalo seorang cewek punya boyfriend, mereka bisa tinggal serumah, seranjang, di negaraku itu tidaklah wajar, bisa-bisa didobrak sama hansip” Pikiranku berlogika sendiri tanpa komando. Istilah pacar memang membingungkan, Akhirnya yang terlihat menjadi terjemahan, selama ini yag aku tahu ia selalu sering dengan laki laki itu, di Hpnya banyak kata-kata “Say”, yang sering dipamerkannya kepadaku seringkali. Maka aku manut saja dengan dunia, sebut saja itu pacaran.
“Emang gimana ceritanya kamu bisa pacaran sama dia?” Aku pura-pura tidak tahu apa-apa
“Pacaran?”
“Iya” Kataku menegaskan
“Waktu itu kita tidak pernah bahas soal istilah, maksudnya, saat itu dia bilang sayang sama aku dan nyatanya aku juga suka sama dia, jadilah kami seperti itu”
“Maksudnya, selalu berdua gitu!”
“Iya..begitulah”
“Lalu..!”
“Sekarang dia pergi dengan perempuan lain”
“Alasannya?”
“Katanya dia tidak cocok lagi sama aku”
“Kamu menerima alasan itu?”
“Jelas tidak donk, ini pengkhianatan bagiku”
“Pengkhianatan!, Kok bisa?”
“Iya donk, ia mengkhianati komitmen, untuk saling menyayangi!”
“Ada kemitment seperti itu emang”
“Nggak jelas, cuman aku udah menyerahkan semua perasaanku sama dia, sampe hampir mati”.
Halilintar menyambar dalam ruang langit yang lagi gerimis, memutuskan dialog dalam sekejab, tentang soerang perempuan yang mencintai laki laki setengah nyawa, dan kini laki laki itu telah bahagia masyuk bersama istrinya. Lucu memang banyak perempuan yang seperti itu, tetapi begitulah sebagian dunia bicara tentang fakta. Ketika banyak perempuan menentang poligami semakin banyak pula perempuan yang memikirkan laki laki yang telah beristri.
Beberapa minggu yang lalu, sebelum hari ini, aku bertanya pada lelaki itu, kenapa ia meninggalkan temanku. Apakah alasan hingga ia begitu “tega” meninggalkan orang yang mencintai dirinya. Orang yang rela memberikan hidup, bahkan bisa juga nyawanya.
“He..he…” laki laki itu malah tersenyum, aku jadi keheranan, Ah bajingan benar laki-laki ini, berani-beraninya tersenyum di atas penderitaan temanku
“Kenapa kamu tertawa?” tanyaku dengan muka muak
“Sebelumnya saya minta maaf, dan saya sudah minta maaf pada temanmu itu“” Jawabnya
“Saya tidak yakin dia bisa menjadi istri saya meskipun dia adalah pacar saya, makanya ketika ada perempuan lain yang saya lihat lebih bisa menjadi istriku aku berani meninggalkan dia” Lanjutnya
“Bagaimana kamu tahu”, Gertakku
“logika dan rasa”, katanya
“Maksudmu?”
“Logikaku mengatakan tidak dan rasaku berpindah ke perempuan lain”
“Kok bisa, kamu tidak kasihan”
“Kasihan bagaimana?”, Jawabnya dengan nada tinggi
“Pacaran kan pacaran yang artinya penjajakan, kalo nggak cocok dan menemukan perempuan lain kenapa tidak?” Lanjutnya lagi
“Wah kamu kejam…”
“Hai…kamu!, perempuan juga bisa melakukan itu, tidak hanya laki laki, semua orang bisa melakukan itu”
“Tetapi temanku kan tidak, dia sangat mencintai kamu, bukannya dia berhak mendapatkan cinta kamu“ , Aku berargument.
“Saya juga berhak mendapatkan cinta dari perempuan lain bukan?” pungkasnya, sedang tak ada kata lagi yang musti terungkap dariku.
Dialogku dengan laki laki itu membawa pengertian, bahwa amat sangat rumit menentukan kejam atau tidak kejam dalam hubungan pacaran. Amat sulit mendeterminasikan cinta dalam hubungan yang tak bereferensi, yang banyak orang sebut sebagai pacaran. Cinta kini menjadi menjadi benci dalam ruang kata itu dan sedikit ornamen dendam dipermukaannya. Begitulah mungkin yang ada dalam hati temanku yang satu ini, yang sekarang duduk disampingku, yang mungkin masih mendifinisikan pacaran sebagai komitmen sepanjang waktu, sedang laki-laki mantan pacarnya menyebutnya sebagai “penjajakan”. Wah.. dunia sering tidak bertemu dalam satu definisi rupanya, karena sepertinya dunia sendiri tidaklah berdefinisi.
Aalborg, 07.10.07
~W~
saya ini terkadang suka manggut2 sendiri klo baca blog mas warno.. menggelitik, tapi bikin mikir juga.. apalagi klo udah menyenggol masalah hubungan pria wanita..
kapan ke hamburg lagi, mas? lama ngga ketawa2 nih.. kangen juga
salam untuk hawa dingin aalborg ya..
Emang paling enak bicara itu Mal :)hubungan hahaha.. anyway…iya nieh kapan ke Hamburg lagi ya
yang pasti kalo udah selesai project disini..yuhuuu..:)
mas, kesini deh ya http://kemalsupelli.blogspot.com
sekedar berbagi pikiran
owalaaah, koq reflektif yah.. hehehe… ternyata, bapak menulis juga.. senang sekali membacanya.
salam,
http://marcapada-puisi.blogspot.com
http://yusako.blogspot.com
mampir baca aj
Great, deep thinking just like used to be
bess…kalo manut istilah-nya orangbule sono…”All’s fair in love and war”… jadi kayaknya ya begitu itu cinta…
cinta itu ga kaya Stainless Steel, yang kalo nge-las harus ada hitungan pre-heat, ampere,filler,post heat dll. Malah kadang-kadang cinta itu unReasonable..hanya dimengerti oleh yang mengalaminya… Makanya ada istilah juga..”Love has many splendour thing”.. Kalo mikirnya pake otak orang mesin ya ga akan nyambung…
Jadi mikirnya mesti pakai hati…hanya bisa bilang setuju sama senior nieh!!