071107
Lelaki belum menjadi laki-laki, ia masih anak-anak. Jika bayi belum punya kesadaran mungkin wajar jika ia tidak tahu tanggal berapa sebenarnya ia dilahirkan. Usia yang terus berulangpun tak pernah ia ingat, sebab ia tak tahu apa memang diperlukan. Setiap kali mengisi data tanggal lahirnyapun, ia selalu bertanya untuk apa? Sebuah pertanyaan yang wajar ditanyakan oleh seorang anak dengan dunia kecilnya. Hampir semua teman sekelasnya juga begitu, televisi yang ada cuman TVRI yang tak banyak membantu memberi gambar, maka sudah tentu ia tak tahu apa itu ulang tahun.
Bahkan sampai kelas enam sekolah dasarpun, ia masih tak tahu tanggal berapa sebenarnya yang harus ditulis pada suatu kolom TANGGAL LAHIR, dibawah kolom NAMA. Selama ini setiap kali gurunya meminta data itu ia selalu menulis tanggal yang berbeda yang dipilih dari Januari hingga Desember dari tanggal 1 sampai tanggal 31 secara random, tergantung perasaaan, atau lebih tepatnya ia terlupa terakhir kali mengisi data seperti ini angka berapa yang ia isikan. Beberapa bulan ke depan ujian akhir akan tiba, bapak guru minta tanggal yang pasti, katanya kali ini tanggal tidak bisa diganti-ganti lagi. Surat kelahiran yang dibikin sudah lama raib entah kemana, sedang bapak dan ibu tidak punya catatan. Bagaimana dengan Kartu keluarga, ah sama saja kartu itu tanggalnya juga dibuat oleh pak RT dengan otoritas penuh.
Di suatu pagi yang cerah bulan Mei, datanglah bapak si anak ke kantor kelurahan. Sayangnya disana pun tidak ada catatan tentang tanggal lahir anak-anak. Akhirnya si anak mendapatkan tanggal lahir dari salah satu pejabat desa, si bapak hanya bilang iya, sebab ia merasa tidak lebih pintar untuk menentukan tanggal lahir anaknya sendiri. Maka terpilihlah tanggal 20 Mei, suatu tanggal yang tidak jelas dapetnya dari mana, mungkin karena hari itu adalah pertengahan bulan Mei, atau suatu perlambang tentang kebangkitan, tidak ada yang tahu.
Tetapi pada suatu hari nanti si anak akan tahu bahwa pada dasarnya tanggal lahir adalah sesuatu yang bisa diatur. Dan pada si anak inilah sebuah kejadian lumayan aneh, akte kelahiran dibuat setelah ijazah dibuat, akte disesuikan dengan tanggal yang ada di ijazah. Sehingga sejak saat itu tanggal 20 Mei tercantum di ijazah SD, dan menjadi official date bagi semua dokumen resmi. Dan seterusnya.
Setelah beberapa tahun, si anak penasaran juga mengetahui tanggal lahirnya sendiri, meskipun sebenarnya tidaklah essential untuk tahu, sebab umur tetap saja tidak bisa dihitung karena itu adalah jarak antara kematian dan kehidupan. Kematian adalah absolute misteri sedang kelahiran adalah tidak, tetapi membiarkan keduanya misteri dengan mengetahuinya salah satu sebenarnya tidaklah ada bedanya.
Demi sebuah tuntutan curiosity-lah, yang pada dasarnya mengilhami semua orang, sehingga ia memutuskan mencari ulang. Beberapa hari kemudian ditemukannlan catatan ibu-ibu PKK. Berdasarkan catatan itu ia terlahir pada tanggal 7 November. Apakah catatan ini layak dipercayai? Untuk sementara ini iya, sampai ada mesin pemutar waktu untuk uji validasinya…Catatan itu ada di seorang ibu, tinggal disebelah rumahnya persis, yang rajin mendokumentasikan siapa-siapa ibu yang melahirkan di kampung itu. Kebenaran kadang memang tidak perlu jauh untuk ditemukan.
Si anak yang tumbuh menjadi lelaki terus berjalan berupaya menyelesaikan seluruh hidup yang datang satu persatu seperti sebuah frame. Ia menyusuri jalan, mendaki dari satu bukit ke bukit yang lain. Ketika sampai di puncak bukit tertentu ia pun melihat ke bukit yang lain yang sepertinya lebih indah atau lebih tinggi. Maka ia pun susuri terus setiap jalan untuk menuju bukit-bukit itu… satu persatu. Di setiap jalan, di tikungan, di lembah, dan di bukit tertentu kadang ia temukan prasasti, yang serupa denganya ataupun berbeda sama sekali.
Seingatnya dulu waktu kecil ia pernah punya suatu cita-cita, mempunyai sebuah pistol mainan dengan harga sepuluh ribu rupiah. Sebegitu kuatnya hingga ia bertekat ketika itu, jika ia punya uang, pistol itulah yang akan dibelinya. Tetapi beberapa tahun lagi setelah benar-benar ia bisa mendapatkan uang sendiri, pistol mainan tidak menarik lagi buat lelaki. Ia paham bahwa keinginan pun selalu berevolusi sepanjang waktu, seperti suatu yang hidup. Terus berubah, satu dicapai ia ingin yang lain.
Selama ini ia merasakan bahwa semua jalan yang pernah terlewati dan bukit bukit yang pernah didaki seringkali tidak sama dengan apa yang direncanakan. Sepertinya,
Jalan-jalan dan bukit-bukit itu lebih indah dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya, lebih indah dari sebuah mimpi pada malam-malam kecilnya dulu. Harapan mejadi sebuah kenyataan yang lebih lagi. Maka sungguh benar firman Tuhannya,Peta hidup yang sesungguhnya hanya bisa dibuat setelah hidup itu sendiri.Disana akan ada terjal yang tak disangka, juga keindahan yang tak terduga.
Lalu apa perlu kemudian ketakutan untuk terus menyusuri jalan-jalan masih terbentang? Rasa-rasanya tidak meskipun banyak harapan yang terus tumbuh seperti sebuah pohon-pohon yang baru ditanam, bersemi dengan daun kecil, dan terancam kematian akibat kemarau yang kadang datang tanpa diminta. Ada satu keindahan lagi yang terlihat samar untuk didaki dengan sepenuhnya. Teman, sahabatnya telah memberi semangat untuk terus berjalan, sedang ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sebab ia tahu bukit yang satu ini sifatnya tidaklah jauh beda dengan sebelumnya, tetap tak ada peta ditangan, yang ada hanya ada tanda panah dan sedikit dokumen yang agak rumit dibaca saat-saat ini. Tetapi apapun yang terjadi di jalan nanti insyaallah adalah yang terbaik untuk mengisi apa yang disebut HIDUP, semoga!Kamilah pelindung pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula didalamnya apa yang kamu minta” (Al Quran, 41:31)
Alhamdulillah
07.11.07
Comments(2)