Archive for January, 2008

Botol-botol pecah

Kembang api
meledak di udara, Jedar-jedor. Kelap-kelip cahaya berwarna. Botol pecah. Orang
berteriak-teriak. Bunyi ambulance meraung. Sirene polisi. Aroma bir bercampur aroma
malam yang makin dingin. Suhu udara naik turun di bawah lima derajat celcius.
Danau beku, sungai belum. Gerombolan muda-mudi melintas jalan. Lampu-lampu
apartement menyala dan dentuman musik dari ujung-ujung kamar bersuara semakin
keras, bukan slow-rock. Orang yang tidak
dikenal memberikan pelukan kepada yang tidak terkenal. Kafe-kafe kecil sepi.
Hanya dua-tiga pasangan sedang mengundi nasib.

Kembang api memang cukup indah, apalagi dibarengi perasaan yang mengharap akan
terjadi keindahan. Wajah wajah terlihat bahagia. Meskipun akan jauh menjadi masalah
besar, bila ada seseorang bertanya, besok wajah itu tetap bertahan ataukah akan
pudar? Maka tak usahlah pertanyaan itu. Mungkin memang tahun berganti adalah kebahagiaan. Apalagi warna-warna
akan mengusir hitam putih. Cahaya terang tiba-tiba memecah kegelapan. Dentuman
suara yang memecah kesunyian. Bukannya itu sesuatu yang dramatis, lepas dari
kegelapan meski sesaat. Dan jauh dari kesunyian meski sebentar. Hanya manusia menyukai drama.

Drama yang
indah, estetik, cantik, dan mengejutkan. Akibatnya adalah perasaan dan rona wajah
yang senang dan bahagia. Tiba tiba kembang api bangkit menjadi medium untuk
mendapatkan rasa yang estetis dan efek drama. Essensinya mungkin hanya serbuk
kimia yang menghasilkan suara dan cahaya. Itulah kenapa kembang api tak bisa
dimakan. Karena yang dibutuhkan cahaya dan suara yang membangkitkan rasa.
Tetapi setelah meledak ia akan musnah esensi, ia akan pergi. Manusia bahagia
dan… lupa.

Film, buku, dvd, vcd, juga medium. Film yang dibuat milyaran US dollar, atau
milyar rupiah esensinya adlah adegan rekaan frame demi frame yang dirancang, disatukan,
diedit, bersamaan dihiasi oleh musik. Medium untuk tegang jika nonton film-film
thriller. Atau khayal melambung jika menonton jenis film romantika. Merasa puas
dan tak jarang merasa ingin. Dan tertawa..jika mediumnya adalah film film
komedi. Buku yang terbuat dari kertas, kemudian ditindih dengan tinta,
dijilid, sebuah medium agar kita
mengerti bahwa 7+2 sama dengan 9 dan tumbuhan melakukan fotosintesis, dll.

Dan beras yang saya makan adalah kumpulan atom, senyawa, yang membentuk ikatan
carbon kompleks, sebuah medium untuk bertahan hidup. Uang, kendaraan, HP,
labtop dan bahkan tubuh saya sendiri ternyata hanyalah medium.  Tak saya sangka suatu saat tubuh saya akan
meledak hancur dan akan kembali menjadi hitam putih, gelap, dan tidak ada
cahaya. Mendadak sirna bertanda nisan. Aroma menguap seperti alkohol yang lepas
dari botol-botol pecah. Dan entah makluk apa yang sedang berbisik pada saya, “Relakah kamu?”

Selamat tahun
baru buat semua

Aalborg.
01.01.08

~W~