Archive for March, 2008

pertanyaan berikutnya …

Udah makan?
Ah, seingat saya, saya sudah pernah mengatakan bahwa saya tidak suka membalas SMS itu. Sebab pertanyaan seperti itu akan sulit saya jawab, jika saya jawab sudah, kamu akan berkata, “Ah makan  roti kok dibilang
makan.” Iya saya tahu yang kamu maksud makan selalu saja harus nasi. Sebab selama saya tahu paling tidak kamu makan dua kali sehari dan harus memakan nasi. Meskipun kamu menghabiskan tiga porsi
roti bakar di pinggir jalan itu, kamu akan selalu bilang belum makan. Maka setiap paginya kamu akan mampir ke warung pecel pinggir jalan saat berangkat ke  kantor.

Kamu suka sama aku?
Aduh! Apalagi ini saya mungkin berulang kali bilang bahwa kata suka, sayang dan cinta punya nalar yang berbeda-beda dan sangat tergantung siapa yang mengatakannya. Kamu pernah dengar cerita saya yang itu bukan? Cerita seorang lelaki yang tinggal di belakang rumah saya. Suatu waktu istrinya menemukan laki-laki itu tidur di hotel bersama perempuan lain lalu laki-laki itu mengatakan “Iya saya sayang sama kamu, Ma. Tapi saya juga suka sama perempuan ini makanya saya
selingkuh sama dia.” Lalu cerita seorang perempuan yang tinggal di samping rumah saya. Bulan yang lalu perempuan itu masih bingung sebab ia mulai sayang dengan teman kerjanya, tapi katanya lagi ia juga cinta pada suaminya. Tentu saja. Beberapa hari yang lalu saat saya bertemu perempuan itu di mall dia bilang, “Kamu tahu, ternyata selingkuh memang benar-benar indah.” Gara gara nalar cinta-suka-sayang yang berbeda-beda  itu kata selingkuh sering jadi penengahnya.


Waktu pulang,kamu ketemu TKI di pesawat, nggak?

Ini lagi! Saya bingung dengan pertayaan ini. Saya mau jawab iya, pasti kamu akan bilang tidak. Sebab saat pulang itu memang saya bertemu pegawai Siemens di pesawat, bukannya mereka TKI? Karena menurut saya semua pekerja laki-laki di luar negeri bisa disebut TKI-Tenaga Kerja Indonesia-bukan begitu? Jika saya jawab seperti itu kamu
pasti akan menyangkal, karena menurutmu yang disebut TKI adalah laki-laki bekerja sebagai sopir tukang  atau tukang bangunan dan bukan di sektor terdidik. Kamu akan jelaskan lagi bukti tambahan, bahwa mereka akan keluar lewat terminal khusus TKI di Sukarno-Hatta. Iya memang mereka tidak pakai jalur khusus itu. Kamu benar. Tapi saya bingung kenapa tidak? Kenapa eggak disamakan saja, paling tidak kita tak usah berdebat lagi. Atau menyamakannya sama dengan menghapus strata yang begitu dominan dalam kemanusiaan kita?

Jadi itulah sulitnya bahasa indonesia dengan pengguna Indonesia. .

Oke kalo gitu, marilah kita bicara dengan bahasa lain.

Bahasa yang lain. Maksudmu?

Bahasa yang tak perlu ditulis lewat baris-baris SMS. Tak perlu suara
saat mengatakannya, tak perlu intonasi. Tidak akan pernah kau jumpai sinonim
ataupun homonim apalagi aturan gramatikal. Bahasa yang bisa secara presisi mengatakan bahwa satu kotak kubus
mempunyai enam sisi berwarna biru.

Hah!? Memang ada?

Iya makanya marilah kita berdua mencari. Sebab, pertanyaan
berikutnya hanyalah tentang…

****

~W~

Hahaha!

Apakah
kamu sanggup kehilangan yang kamu cinta?

Kamu tahu apa yang saya cinta?

Hidup
kamu,  harta, atau bahkan Perempuan,  mungkin!

Tidak sanggup, tetapi apa perlu saya takut?
Saya bertanya retorik bukan!?. karena saya tahu makluk apa sejenis kamu, dan
yang saya tahu kamu cukup mengerti siapa saya.

Hahaha.
Memang siapa kamu, sehingga kamu begitu percaya diri bahwa saya tahu siapa kamu

Hahaha. saya juga bisa tertawa seperti cara
kamu. Kamu selalu begitu.

Dan beberapa tahun sebelum hari ini ada
seseorang yang lahir ke dunia. Dalam kitab tertulis tujuan ia lahir adalah
untuk ibadah. Tetapi sayangnya ibadah itu bukan serupa kata, atau benda-benda
antik atau serupa mode terbaru sehingga mengikuti arus seperti acara gosip yang
tiba-tiba mempunyai rating yang sangat  tinggi. Atau tidak juga serupa obat tidur yang
membuat penyakit insomniamu sembuh secara mendadak tetapi hanya sementara. Atau
bukan juga serupa ramuan mimpi sang alkhemis supaya nanti malam seorang bisa bermimpi
tentang suatu keindahan.


Dan beberapa tahun sesudahnya ia tumbuh
menjadi manusia serba pongah yang melahap
semua jenis lukisan dan potret-potret hidup milik orang lain. Serupa sobekan
gambar-gambar indah tetapi sayang sebagain besar berupa permainan puzzle yang
belum selesai. Ah.. sejak itu ia tahu bahwa hidup semua orang tak pernah
sempurna. Meski kadang mereka saling melirik kiri-kanan-depan-belakang-atas-bawah
ingin mencari-cari bagian yang hilang itu. Seperti halnya dia, kebanyakan akan lupa
untuk menengok ke dalam. Dalam dirinya kepingan itu ternyata tersimpan. Ini pun
adalah pecahan yang ke sekian ratus dari jutaan yang tersisa. Oh..! apakah
sebanyak itu?Iya mungkin sebanyak molekul DNA yang ada dalam jasadnya.


Salah satu kepingan itu hadir ketika
petugas pembasmi nyamuk terlambat membasmi serangga-serangga indah tapi bedebah
itu. Sehingga entah bagaimana kemudian badannya panas dan menggigil dan kamu
tahu? Ia hampir mati waktu itu. Saat ia beranjak lulus sekolah enam tahun itu,
ayahnya mengancam tidak akan melanjutkan ia sekolah. Tentu kamu tahu alasannya,
sebab kambingnya tidak beranak kembar. Hahaha.. kenapa kelahiran kembar pada
kambing bisa mempengaruhi keputusan pada masa depan hidup manusia? Iya tentu
karena kambing adalah protret serupa mozaik ujian, serupa juga dengan sebuah sobekan
potret. Tidak lebih dari itu, dasar kambing (itulah alasannya kenapa ia suka sekali
melihat acara pemotongan kambing di masjid…)


Beranjak masa puber, ia mulai coba-coba
jatuh cinta (itu pun katanya) . Ia pun bermimpi bertemu dengan seorang perempuan
serupa bidadari dalam khayalannya sendiri. Tidak lain adalah teman sekelasnya
sendiri pada waktu kelas satu menengah tingkat pertama. Ia pun mulai belajar
menulis kata cinta untuk pertama kalinya, meski tak satu pun  surat
yang sempat terkirim. Ia bersikap sok
bijak dengan mengharapkan bahwa suatu saat nanti ia akan bertemu dengan
perempuan itu kembali. Bertahun-tahun kemudian ia baru tersadar bahwa cinta itu
serupa cinta makluk bernama monyet yang dapat berdiri melihat pisang yang belum
matang. Hormon pubertas itu setara enzim pada lambung yang membuat orang selalu
lapar. Pada tahun-tahun ketika pisang itu telah matang ia lebih suka buah apel
yang baru ia temukan di pinggir jalan.

 
Buah apel tak semanis tampaknya, tak
seindah rasa yang dibayangkan. Begitulah ia mencoba mendaki cinta yang
kedua. Oh… perempuan serupa buah apel
itu bermain-main petak umpet di hutan jati yang sedang meranggas. Menimbulkan
suara kresek-kresek daun jati kering
yang siap terbakar. Saat ia menemukan perempuan itu di bawah pohon jati yang
telah mati perempuan itu mengatakan, “Tak ada masa depan buat kita karena hujan
akan turun sepanjang musim, dan aku tak mencintaimu lagi ketika pohon jati
tidak lagi meranggas.” Ah mana mungkin ia akan melawan musim. Kemarau tak akan
datang!? alasan seperti itu tidaklah logis. Tapi sejak kapan cinta bisa
dinalar dengan logika? Tidak cinta, ya tidak cinta saja.


Hey…kamu,
jadi sebenarnya kamu sanggup tidak?

Tentu saya tidak akan. Kadang saya menangis
di malam-malam kehilangan itu. Tapi kamu tahu yang saya cinta tidak lebih besar
dari nyamuk, kambing, ataupun buah apel.

 
Jadi?

Saya tidak sanggup, tetapi saya tidak
pernah takut. Bukannya itu hanya serupa perjalanan menemukan kepingan-kepingan
itu.

Hahaha.
Kamu sombong!

Hahaha. Saya tahu kamu pasti akan berkata
seperti itu, karena saya tahu tugas kamu. Tidak lebih hanya mengacak* hati.

 

*membolak-balik

 
23.03.2008

~w~