apakah golput sama dengan do nothing?
Sekarang ini memang agak confusing melihat gaya, suasana atau apapun
namanya yang berhubungan dengan politik. Maka wajar jika beberapa orang
langsung kehilangan mood kala membicarakan masalah politik. Effectnya kemudian adalah seorang pribadi merasa tidak ada sangkut pautnya dengan dunia politik, meski secara sah memiliki KTP, yang diakui atau tidak adalah representasi kehidupan politiknya. Apalagi jika melihat sejarah, dan perilaku orang orang yang berpolitik di negara kita, yang agak sulit dikatakan
memperbaiki, membangun atau mengutamakan kepentingan rakyat yang
merupakan basic/fundamental idea why it is called politic.
Sehingga pemilihan umum yang dilakukan seringkali terdapat apa yang sering kita sebuat sebagai golput (golongan putih?) atau golongan yang tidak
memilih. Jangan salah juga kalo mengganggap jumlah dari penduduk yang
melakukan golput itu rendah, kadang jumlahnya bisa sangat tinggi
melebihi 30%, pilkada di Jatim baru-baru ini mencatat 40% jumlah
pemilih adalah golput.
Tenang saja, saya adalah langganan golput. However, now i am thinking, what I was doing is right or not?
Dulu, saya dan beberapa teman yang juga sealiran dengan saya beralasan
bahwa golput juga pilihan, adalah pilihan untuk tidak memilih. Pilihan
itu akan memberikan konsekuensi pada saya untuk tidak merasa
bertanggung jawab terhadap partai, kelompok, atau orang yang saya pilih
jika nanti mereka melakukan hal-hal (kebijakan) yang tidak baik di muka
bumi Indonesia. Hal tersebut karena sulitnya mengakses niat, benar atau
tidaknya mereka membela rakyat, maka putusan yang paling baik dan benar
saat itu adalah golput…
Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa benar ketika saya golput artinya saya benar-benar tidak memilih, tidak berbuat apa-apa, tidak punya tanggung jawab apapun, kind of…do nothing?
Jawabannya ternyata tidak. Ketika tidak memilih artinya saya
sedang memilih untuk memberikan peluang menang atau kalah pada satu
golongan. Take example, Yang paling mudah adalah pilihan kepala desa,
assume bahwa jumlah pemilihnya adalah 100 orang. Ada dua kandidat.
Aturannya, siapa yang mendapat suara yang terbanyak itu yang menang.
Jika saya tidak memilih maka jumlah pemilih menjadi 99 orang. Misal
pemenangnyanya adalah si A yang mendapatnya suara 50 suara. Jika saya
memilih dan memilih si B mereka seri, maka akan dilakukan pemungutan
suara ulang. Di sini terlihat saya menghalangi si A menang jika saya
milih (sebab jika saya tidak memilih si A sudah menang).
Jika jumlah orang yang golputnya banyak di desa itu misal 30 orang(30%),
maka jumlah yang pemilihnya sekarang adalah adalah 70 orang. Say..
sekarang si A mendapat 38 suara, dan si B mendapat dukungan 32 suara,
which is A menang lagi. Tapi misal 30 orang itu berhasil di yakinkan
untuk milih dan ternyata 20 memilih B, maka si B yang akan menang
istead of A. see..how golput effect significantly to the result…
Jadi kalau.. one of you have such a belief (like me) that golput adalah
tidak ikut-ikut, cuek, or do nothing…kayaknya kurang tepat.
Sepertinya do nothing adalah actually do things.
Jadi (lagi) kayaknya saya harus koreksi diri dan bersiap-siap untuk memilih partai yang baikhati deh tahun depan..:)
salam,
~w~
percaya aku no, belum ada partai yang baik tahun depan …hahahahaha
jadi kamunya golput lagi nieh? LOL
kebetulan, baru aja ngebahas ini.
yup, setuju saya, mas. kekhawatiran itu yang bikin saya menghindari golput. walaupun pada saat nyoblos juga keder, apakah yang saya pilih itu benar-benar pilihan yang terbaik.
saya pikir, lebih baik bertanggung jawab untuk mengambil suatu pilihan walau akhirnya, katakanlah, harus memilih yang terbaik dari yang kurang baik.
nett: Iya betul, go to nyoblos
bawa saputangan ya, siapa tahu entar keringetan selain keder. dan Baca Bismillah, tentu.