Archive for September, 2008

memahami, mengerti atau mengetahui atau?

Mungkin agak klasik, atau agak umum dijumpai bahwa ada suatu pendapat; keberagamaan seseorang i.e. pernyataan seseorang menganut agama, atau percaya Tuhan tidak serta merta berbuah pada perilaku. Maka sering kali arahnya, atau jawaban kita adalah mereka (some of them) tidak memahami maksud dari keberagamaan itu. Lalu ada juga kasus dimana pengetahuan agama seseorang tidak berbanding lurus (atau exponential?), tapi malah mengarah pada perbandingan terbalik. Entahlah tidak serta merta menjadi pasti apakah hal seperti itu benar adanya atau itu hanya media saja yang terlalu bersuara. Maka Saya tidak akan bertanya tanya kenapa bisa terjadi seperti itu atau apa solusinya tapi saya lebih tertarik ke perbedaan kata memahami, mengerti atau mengetahui, yang insyaallah berhubungan sekali dengan yang saya maksud dengan ke-Tuhanan tadi.

Namun sebelumnya lebih baik saya mengucapkan terimakasih lebih dahulu kepada diknas yang membangun situs ini.

Jadi inilah kutipan arti dari kata

me·ma·hami v 1 mengerti benar (akan); mengetahui benar: ia ~ bahasa dan kebudayaan Arab; 2 memaklumi; mengetahui: pemimpin harus dapat ~ kehendak rakyat;

er·ti n arti;
meng·er·ti v (telah dapat) menangkap (memahami, tahu) apa yg dimaksud oleh sesuatu; paham: rupanya ia tidak ~ maksud perkataan itu; berkali-kali diajar, belum ~ juga;

me·nge·ta·hui v 1 memaklumi; menyaksikan; tahu akan: kami belum ~ apa sebabnya dia tidak datang; 2 tahu dng menilik ciri-ciri (tanda-tanda dsb); mengenal: saya ~ Ali dr suaranya; 3 menyadari; menginsafi: dia belum ~ bahwa pencuri itu sudah berada di kamarnya;
tidak ~ daratan lagi, ki
tidak sadar lagi;

Jadi saya dapat make a concluding remarks bahwa memahami itu adalah mengerti suatu maksud, dan mengerti suatu maksud mempunyai atribute pengetahuan, dan pengetahuan dibangun dari pengalaman. Urutannya menurut saya begini.

mengalami–>mengetahui–>mengerti–>memahami

Di sana dapat dilihat bahwa, pengalaman adalah atribut penting dalam pemahaman. Yang kedua pengetahuan diperlukan agar seseorang bisa mengerti tentang pengalaman yang telah didapat. Mungkin di sinilah pentingnya, atau fungsinya atau manfaatnya beribadah itu, mencari suatu pengalaman. Tetapi menurut saya lagi pengalaman tidak serta merta dari ibadah down-up kepada Tuhan saja, melainkan pengalaman pengalaman lain dalam hidup termasuk pengalaman bertemu, bergaul dengan variasi karakter.

Melihat keterkaitan antara pengalaman dan pemahaman, dapat juga diduga bahwa pengalaman, atau pengetahuan seseorang tidak serta merta berbuah pemahaman. Seperti banyak diketahui bahwa pengalaman lebih berasosiasi ke action (tindakan) maka gagal memahami berarti tidak berhasil membuat suatu actian berdasarkan pemahamannya.

So, pengalaman yang luas, pengetahuan luas, pengertian yang luas, tidak serta merta menjadikan seorang  berperilaku baik (gagal memahami). tapi juga pemahaman tidak serta merta didapat tanpa pengetahuan dan pengalaman.

Jadi sepertinya siklus berlangsung juga dalam hal ini. Dan semoga kita bukan bagian dari orang yang gagal memahami tadi.

salam

w…

tawuran dan apa kata mereka?

Kemarin sempat chat sama seorang teman, dan seperti biasa saya bertanya bagaimana khabarnya. Dan seperti biasa juga ia akan menjawab dalam kondisi baik, maka kami bergeser membicarakan masalah lain. Sesuatu yang sesungguhnya tidak mengherankan saya i.e. “tawuran” yang banyak terjadi sekarang, meski sekarang adalah bulan R. Lalu saya mengecek situs-situs berita, dan saya temukan judul online news semacam ini;

“Usai Tarawih, Warga Tawuran”

Kalau mau membaca beritanya (sebenarya bukan berita) bisa disini

Ada dua point disini yang menurut saya penting untuk dipikirkan baik-baik, pertama judul berita yanng pertama “usai tarawih, warga tawuran”. Saya menduga most of us akan berpikir bahwa, dari kalimat ini bisa ditarik pertanda secara cepat bahwa;

  1. Semua peserta tawuran adalah orang orang yang telah selesai melaksanakan sholat tarwih
  2. Jika usai tarawih hanya sebagai penanda waktu, kenapa tidak menggunakan “usai waktu tarawih” sebab usai tarawih means sesuatu yang aktif, ada subjectnya yaitu dalam hal ini adalah orang-orang yang tarawih.

Pada point 2, dapat dilihat penulis mengunakan frame time pembaca, dan kesannya seakan-akan semua peserta tawuran adalah orang-orang yang habis melakukan sholat tarawih, Which is kondisi seperti itu tidak terklarifikasi.

Judul yang lain yang hampir mirip adalah

“Habis Sahur, Tawuran di Jakarta Barat”

Lalu dapat di garis bawahi di sini adalah, penulis berita itu mendapatakan respon sesuai yang diinginkan, coba lihat komen pembaca berita itu. saya ambil contoh satu komen

“Aneh, apa ya didoain selama tarawih… sedih banget, habis beribadah dah tawuran…katanya mau nyucikan ramadhan. Ironis banget warga bangsaku ini. Ampuni kami ya Allah”

Dari komen itu dapat saya ambil beberapa  hal penting bahwa penaruh komen itu bertanya “apa yang didoakan selama tarawih” dimana pernyataan seperti menyimpan suatu under estimasi,  kalau enggak retorik !? terhadap fungsi terawih. Dimana hal tersebut medekonstruksi banyak pemikiran orang bahwa tarawih akan memberi berkah pada mereka. Dimana dekonstruksi seperti itu sangat berbahaya.

Kedua, penulis komen, meng-under estimate kan bangsa sendiri, tapi menaruhnya penuh generalisasi, jadi menganggap bahwa bangsa ini benar-benar ironis meski ramadhan, which is tidak selamanya benar.

Kesimpulan saya adalah, bahasa pers itu benar benar penuh maksud, meski mungkin tidak dikehendaki oleh penulisnya, namun secara sistematis akan membentuk frame berpikir seseorang terhadap suatu masalah. Dan berita berita itulah yang membangun karakter banyak orang. Percaya atau tidak.

salam
w…