tawuran dan apa kata mereka?

Kemarin sempat chat sama seorang teman, dan seperti biasa saya bertanya bagaimana khabarnya. Dan seperti biasa juga ia akan menjawab dalam kondisi baik, maka kami bergeser membicarakan masalah lain. Sesuatu yang sesungguhnya tidak mengherankan saya i.e. “tawuran” yang banyak terjadi sekarang, meski sekarang adalah bulan R. Lalu saya mengecek situs-situs berita, dan saya temukan judul online news semacam ini;

“Usai Tarawih, Warga Tawuran”

Kalau mau membaca beritanya (sebenarya bukan berita) bisa disini

Ada dua point disini yang menurut saya penting untuk dipikirkan baik-baik, pertama judul berita yanng pertama “usai tarawih, warga tawuran”. Saya menduga most of us akan berpikir bahwa, dari kalimat ini bisa ditarik pertanda secara cepat bahwa;

  1. Semua peserta tawuran adalah orang orang yang telah selesai melaksanakan sholat tarwih
  2. Jika usai tarawih hanya sebagai penanda waktu, kenapa tidak menggunakan “usai waktu tarawih” sebab usai tarawih means sesuatu yang aktif, ada subjectnya yaitu dalam hal ini adalah orang-orang yang tarawih.

Pada point 2, dapat dilihat penulis mengunakan frame time pembaca, dan kesannya seakan-akan semua peserta tawuran adalah orang-orang yang habis melakukan sholat tarawih, Which is kondisi seperti itu tidak terklarifikasi.

Judul yang lain yang hampir mirip adalah

“Habis Sahur, Tawuran di Jakarta Barat”

Lalu dapat di garis bawahi di sini adalah, penulis berita itu mendapatakan respon sesuai yang diinginkan, coba lihat komen pembaca berita itu. saya ambil contoh satu komen

“Aneh, apa ya didoain selama tarawih… sedih banget, habis beribadah dah tawuran…katanya mau nyucikan ramadhan. Ironis banget warga bangsaku ini. Ampuni kami ya Allah”

Dari komen itu dapat saya ambil beberapa  hal penting bahwa penaruh komen itu bertanya “apa yang didoakan selama tarawih” dimana pernyataan seperti menyimpan suatu under estimasi,  kalau enggak retorik !? terhadap fungsi terawih. Dimana hal tersebut medekonstruksi banyak pemikiran orang bahwa tarawih akan memberi berkah pada mereka. Dimana dekonstruksi seperti itu sangat berbahaya.

Kedua, penulis komen, meng-under estimate kan bangsa sendiri, tapi menaruhnya penuh generalisasi, jadi menganggap bahwa bangsa ini benar-benar ironis meski ramadhan, which is tidak selamanya benar.

Kesimpulan saya adalah, bahasa pers itu benar benar penuh maksud, meski mungkin tidak dikehendaki oleh penulisnya, namun secara sistematis akan membentuk frame berpikir seseorang terhadap suatu masalah. Dan berita berita itulah yang membangun karakter banyak orang. Percaya atau tidak.

salam
w…



No Comment

No comments yet

Leave a Reply