Archive for October, 2008

simple-sederhana, dan ya seperti itu…

Agak mengherankan juga memang bahwa hidup ini, termasuk hukum hukumnya bisa diformulasikan dalam suatu , prinsip, bentuk, atau pengertian yang hanya sederhana. Contoh yang paling terkenal adalah E equal to m time c kuadrat-nya Einstein. Energy setiap benda setara dengan massanya dikalikan kuadrat dari kecepatan cahaya. Simple. Konsekuensinya bukan main luar biasa, bisa menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima dan menjadikan Amerika bangsa yang angkuh sampai sekarang. Tapi sebagian kalian mungkin tidak akan mengira bahwa untuk menurunkan (menghasilkan) persamaan itu, bukannya sesuatu yang mudah. Kalau tidak percaya pergilah ke sini. :), dan rasakan betapa tidak nyamannya upaya memahami sesuatu yang (sesungguhnya) tidaklah sangat complex itu.

Selain equation itu, masih banyak juga dalam fisika dimana kerumitan jika berhasil dipahami  sesungguhnya adalah kesederhanaan. Jadi kerumitan pada dasarnya adalah kesederhanaan yang belum diketahui. Atau dengan kata lain, kerumitan sering ditemukan dalam upaya memahami. Kalau sudah mengerti dan paham, paling arek suroboyo kayak saya akan bilang “Eh..ngono tok, toh”. Atau lebih ke barat “Hah, cuman gitu ajah”.

Okey sejenak saya akan pindah ke cerita tadi siang, di mana saya sholat Jumat di suatu masjid Turky (bukan di Turky :))… Sekitar dua tahun yang lalu saya merasa masjid itu tidak seramai saat sekarang. Iya, Sekarang ini sangat ramai sekali. Begitu ramainya sampai seringkali para lelaki harus menggusur (menggunakan) tempat yang seharusnya digunakan beberapa remaja perempuan…(entah untuk apa remaja itu berada di situ  pada jumat siang).

Ada dua hal yang menarik di sana: Pertama, tentu berkait kenapa jumlah jamaahnya semakin banyak; menyangkut hal ini saya mengajukan dua kemungkinan alasan yaitu: banyak orang tobat atau bertambahnya pemeluk islam. Mana yang menjadi alasan utama tentu saya tidak tahu pasti. Jadi, mari melangkah saja ke hal menarik berikutnya.

Adalah, dari sebuah experiment pikiran. Coba bayangkan kalo Tuhan juga mewajibkan perempuan untuk sholat Jum’at. Pasti masjid itu bakalan lebih ramai, tidak akan muat. Oke sekarang kita bawa bayanyan seperti itu ke Indonesia. Coba bayangkan kalau perempuan juga diwajibkan sholat jum’at apa yang terjadi di masjid-masjid pada jumat siang. Apa yang terjadi dengan Mall (Kasihan kan para pelanggan kalo mall harus tutup pada jumat siang..LOL). Tidak.  Lebih utama tentu soal betapa tidak efectivenya masjid yang tentu harus cukup besar, tapi hanya digunakan jumat saja.

Jadi, kenapa perempuan tak diwajibkan sholat jum’at?. Alasan sesungguhnya jelas milik Allah. Tapi dalam frame pikiran manusia bukannya simple sangat. Sederhana saja! Itu  mempermudah manusia sendiri. Effectiveness. (may be you have other arguments, hadist atau lainnya which is I dont know, I am happy if you could send me)

“Bagaimana dengan hak perempuan untuk sama di muka Tuhannya, Jumatan saja perempuan tak diwajibkan, kok pilih kasih sekali rasanya ya!”

Bukannya complicated sekali pernyataan di atas ya. Padahal sesunguhnya sesederhana yang saya duga di atas. Ya lebih efektif dunk (titik). Hal-hal yang seperti ini analog sekali dengan dengan persamaan fisik E=MC2 tadi, dimana sesuatu yang complicated sebenarnya adalah sangat sederhana juga. Tergantung berhasil apa tidak kita menemukan kesederhanaan itu, memahami kesederhanaan itu. Jika berhasil, I personally beleive that life is actually so simple.

Contoh lain yang berkait adalah (misalnya) masalah poligami.

simplenya : Jika kalian bisa adil (wahai para  lelaki yang baik) kalian boleh menikah lebih dari satu, jika tidak, ya satu saja. (titik).

Apa yang complicated  di situ. :))???

salam

w…

dan mereka

Mereka bertemu kembali. Sudah empatpuluh tahun.

“Aku paham tentang kamu sejak empatpuluh tahun lalu ditambah lima”

“Aku juga”

“Tapi aku hanya mau mengetahui apa yang ingin aku ketahui”

“Tidak berbeda denganku”

“Ya kita sama-sama menyukai kegelapan”

“Lebih tepatnya, suka melihat gelap daripada terang”

“Aku selalu melihatmu salah”

“Dulu kamu selalu kurang tepat, paling tidak bagiku”

“Ah! aku lupa tentang uang yang kau pinjamkan”

“Harus kuakui,  hanya darimu aku belajar bagaimana caranya tidak menangis sepanjang malam”

“Terima kasih untuk kiriman lagu itu”

“Masih suka nonton film horor?”

“Tidak lagi, sejak para pembajak takut menjual DVD”

Dan mereka mulai membicarakan  kebodohan sendiri. Bagaimana cara tepat memahami, sahabat?  Keduanya tidak mengerti benar. Salah satu dari mereka berkata

“Tapi apalah fungsi  semua itu?”

“Masa lalu tampak bodoh dalam bungkusnya-lelucon?”

“Biarkanlah”

Mereka bersepakat.

“Kini aku melihat bagian terangmu saja, lihat sendiri selainnya”

“Ya! dan aku tahu hari ini aku lebih  baik”

Salah satu dari mereka mengangguk. Sama dengan mereka empatpuluh tahun yang lalu. Mengangguk untuk suatu yang berbeda.

“Lebih baik kita berpisah, di sini!”

“Baiklah”

“Okey.”

“Oh iya, kalau begitu kita tidak usah bertemu lagi, sampai kapan pun”

#

pada akhirnya, jangan jatuh cinta

Ketika itu ada dua pemuda , umurnya dua puluhan, sedang duduk di sebuah bangku taman tempat mereka belajar tentang suatu mata kuliah yang sulit. Mereka berdua hampir putus asa, tapi ada senior datang ke meja mereka, adalah senior yang sudah bekerja di perusahaan multi nasional yang lagi liburan. Petuah yang teringat..work hard and you will happy at the end. Kedua mahasiswa itu tak tanpa sadar terobsesi oleh…you will happy at the end..karena kerja keras akan menghasilkan karir bagus…karir yang mulus adalah multinational atau perusahaan national yang yang terkenal, bonafit, banyak orang pintar di sana (meski pintar mungkin hanya soal nasib baik), kuliah luar negeri.

Pada malam ini, setelah lelah baca berita-berita politik, one those students stuck at this news.

Burhanuddin Abdullah, enam puluh tahun lebih, karir yang mencengangkan sarjana pertanian, kerja di Unilever, master di Amrik, lalu kerja di IMF dan pada akhirnya jadi pejabat kelas atas BI, recently, gubenur BI dan kini ia menghadapi 8 tahun tuntutan penjara..simply karena keputusan yang salah” di sini

Ya, tentu saya tidak tahu apakah pak Burhanudin lagi bahagia dengan tuntutan itu, dalam ukuran saya tua dalam penjara adalah tidak menyenangkan. Apalagi setelah karir ynag setinggi bintang, simply seperti meminum jamu pahit setelah pesta minum sari buah.

Dan tidak hanya sedikit, banyak manusia yang jatuh pada jalur yang sama. Kesuksesan masa muda tak menggambarkan sepenuhnya akhir cerita.

Sepertinya bagi manusia harus ada hal lain setelah; karir yang bagus, jabatan tinggi, nama harum di koran nasional, nasib yang selalu beruntung.

seuatu yang rumit untuk dijaga, yaitu tidak terlalu jatuh cinta pada semua itu.

salam

w…